Obyek Wisata Air Terjun Bajuin

Desa Sungai Bakar Kec.Bajuin Kab.Tanah Laut (10 Km dari kota Pelaihari)

Obyek Wisata Pantai Takisung

Desa Takisung Kec.Takisung Kab.Tanah Laut (22 Km dari kota Pelaihari)

Obyek Wisata Pantai Batakan

Desa Batakan Kec.Panyipatan Kab.Tanah Laut (40 Km dari kota Pelaihari)

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 27 September 2010

Cinta Berselimut Taqwa

Kisah ini tentang masa muda Syaikh Sulaim As-Suyuthi yang terjadi di kota Damaskus, Syria, dimana Daulah Umawiyah menjadi ibu kota pada zaman itu. Di kota itu terdapatlah sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Jami’ At-Taubah. Masjid At-Taubah ini dibangun oleh seorang sultan pada abad ke-7, konon sebelumnya adalah tempat hiburan, tempat kemaksiatan. Syaikh tinggal di salah satu ruangan masjid itu hampir tujuh puluh tahun. Syaikh sangat termasyur dan dipercaya karena Kezuhudannya. Seringkali ia lewati hari-hari tanpa ada makanan sedikitpun ataupun sekeping uang untuk membeli makanan. Dalam kelaparan sering kali ia merasa kematiannya sudah dekat, tetapi ia menganggapnya sebagai ujian.

Suatu ketika ia menemui keadaan yang sedemikian gawat karena sudah berhari-hari ia tidak makan, demi mempertahankan hidup ia harus makan apa saja. Keadaan yang sangat darurat yang dalam ilmu fiqih sudah sampai batas diperbolehkan makan bangkai atau mencuri. Saat itu Sulaim memilih mencuri segenggam makanan. Menjelang Ashar ia keluar dari masjid, jika diluar masjid ada yang memberinya makan alhamdulillah. Jika tidak ia terpaksa harus mencuri. Masjid At-Taubah berada disekitar perkampungan yang rumahnya saling berdampingan satu dengan yang lainnya. Terpikir oleh Syaikh untuk melintas diatas rumah-rumah penduduk itu, kalau-kalau ada makanan yang dijemur di atas rumah.

Ia melihat sebuah rumah yang sedang kosong dan segera melangkah ke atap rumah itu, ia mencium bau masakan yang membuat air liurnya keluar. Dengan dua kali lompatan ia sudah berada di atap rumah tersebut dan segera menuju dapur, dilihatnya beberapa terong yang baru saja direbus. Karena rasa lapar yang tidak tertahankan lagi, ia langsung memakan terong itu tanpa peduli lagi panasnya makanan tadi. Namun ketika hendak menelannya, nuraninya mengusiknya. Ia berkata

” Astaghfirullah, A’udzubillahi minasy syaithanir rajim…

” Aku mencuri? Aku mencuri?”

” Mana imanku? Mana imanku? Aku berlindung kepada Allah.”

” Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”

” Aku seorang mu’azin di masjid, seorang penuntut ilmu, murid seorang ulama besar, tapi berani masuk ke Rumah orang lain dan mencuri?”

” Astaghfirullah… Ini tidak boleh terjadi.”

Ia langsung mengeluarkan semua terong yang sudah ia mamah dimulutnya, mengembalikan terong yang telah ia gigit. Airmatanya terbit, menyesali perbuatannya dan merasa telah melakukan dosa besar. Ia kembali ke masjid dan sepanjang jalan terus beristighfar.

Usai shalat Ashar ia duduk mengikuti dan mendengarkan pengajian sang Guru di masjid sambil terus memikirkan perbuatannya siang tadi. Usai pengajian dan semua orang telah pergi, tiba-tiba datang seorang wanita dengan memakai cadar muka menghampiri gurunya dan berkata kepada Gurunya dengan ucapan yang sama sekali tidak dapat ia dengar. Setelah itu Gurunya memanggilnya karena tidak ada orang lain lagi disekelilingnya dan bertanya,

” Apakah kamu telah menikah?”

” Belum jawabnya.” Guru betanya lagi,

” Apakah kamu ingin menikah?”

Ia terdiam, perutnya semakin melilit. Ia tidak memikirkan menikah, tetapi memikirkan nasib perutnya yang sudah sekian hari tidak kemasukan makanan. Kemudian guru mengulangi lagi pertanyaannya, dan Syaikh menjawab,

” Guru, Demi Allah, untuk membeli sekerat roti pun saya tidak mampu, bagaimana mungkin saya menikah?”.

Gurunya itu tersenyum lalu berkata,

” Wanita ini bercerita bahwa suaminya baru saja meninggal. Massa Iddahnya telah habis. Ia ingin mendapatkan suami lagi yang menikahinya sesuai Sunnah Rasulullah SAW, agar tidak sendirian lagi, sehingga menutup kesempatan mereka yang ingin berbuat jahat. Apakah kamu mau menikahinya?”

Syaikh menjawab, “Insya Allah saya mau.” Dan si wanita tadi pun menerima Syaikh sebagai suaminya.

Guru langsung menghadirkan dua orang saksi untuk melaksanakan akad nikah dan memberikan mahar untuk muridnya. Setelah itu sang wanita membawanya kerumahnya. Sesampainya di rumah sang wanita membuka cadarnya, Syaikh kaget karena isterinya itu sungguh sangat cantik. Wajah istrinya putih bersinar. Ia semakin kaget saat ini dia berada di rumah yang siang tadi ia masuki.

” Apakah Kanda sudah makan siang?” Tanya sang wanita.

Syaikh menjawab “belum”. Kemudian sang wanita mengajak Syaikh ke dapur untuk makan, namun saat membuka tutup panci betapa kagetnya sang wanita seraya berkata,

” Mengherankan! Siapa yang berani masuk rumah ini dan menggigit terong ini! Mungkin orang yang lancang ini tahu kalau aku janda sehingga berani nya ia masuk rumah ini!”

Mendengar hal itu, Syaikh menangis dan ia mulai menceritakan yang sesungguhnya terjadi. Ia minta maaf. Wanita itu pun menangis mendengar cerita suaminya. Dengan terisak ia berkata,

” Kau lulus ujian, Suamiku. Kamu menjaga dirimu dari perbuatan haram. Sebagai gantinya Allah memberikan terong ini semua bahkan pemiliknya dan seisi rumahnya secara halal”.

Sejak itu ia tinggal bersama isterinya yang cantik, salehah, cerdas. Dan dengan hartanya ia menuntut ilmu menjadi seorang Ulama Besar.

Di Bawah Naungan Cinta

Ibnu Hazm pernah jatuh cinta sebanyak tiga kali. Cintanya yang pertama ia tumpahkan kepada jariat (pembantunya) lalu menikahinya ketika Ibnu Hazm berusia di bawah 20 tahun.

Ketika isterinya yang lebih muda darinya itu meninggal dunia, ia larut dalam kesedihan dan menangis berbulan-bulan, walaupun seperti pengakuannya ia adalah orang yang sulit mencucurkan air mata.

Ia jatuh sakit sekian lama, bahkan kehilangan sebahagian ingatannya, walaupun kemudian sembuh.

“Demi Allah, hingga kini aku tidak pernah lagi merasa bahagia. Kehidupan setelah kepergiannya tidak nyaman lagi. Aku terus mengenangnya dan tidak lagi menemukan kesenangan dari selainnya.”

Sekali lagi, dengan demikian, Ibnu Hazm sendiri sibuk dalam cinta sepanjang hidupnya, sebagaimana ia disibukkan oleh ilmu-ilmu agama semacam fiqih (hukum Islam), tafsir, hadis dan teologi, bukan hanya perempuan sebagaimana tulisnya.

Ibnu Hazm menulis bahawa, “Cinta awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Dia tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya, syariat pun tidak melarangnya.”

“Ketika masih remaja, aku jatuh cinta kepada seorang gadis berambut pirang. Sejak itu aku tidak mengagumi gadis berambut hitam, meski pemiliknya berada di matahari atau sangat molek. Itu kecenderunganku sejak saat itu. Diriku tidak pernah mengagumi lagi kecuali rambut pirang. Itu pula kecenderungan ayahku.”

Kalimat di atas merupakan pengakuan filosof dan ulama besar dunia, Ibnu Hazm. Lewat karyanya yang berjudul Tauqul Hamamah (Di Bawah Naungan Cinta). Ibnu Hazm berhasil menjadikan dirinya sasterawan yang cukup disegani. Bukunya ini menjadi buku terlaris sepanjang abad pertengahan. Buku itu tidak hanya menarik bagi umat Islam, tetapi juga bagi kaum Nasrani di Eropa.

Padahal Ibnu Hazm dikenal sebagai salah satu ulama tersohor di abad pertengahan. Ayahnya dikenal sebagai salah seorang menteri pada zaman Khalifah al-Manshur.

Menurut penuturan Ibnu Hazm, cinta pertamanya bersemi ketika ia berusia 18 tahun. Sementara gadis pujaannya yang berambut pirang berumur 16 tahun. Gadis itu dikaguminya sampai habis. Ia mengatakan bahwa pujaannya itu seorang yang cantik, bertabiat baik, dan bertubuh sintal. Si gadis pun pandai bernyanyi dan memetik kecapi, yang menjadi kebiasaan kala itu.

Ibnu Hazm tergila-gila. Setiap hari selalu menanti gadis itu lewat di depan pintu rumahnya. Begitu gadis itu muncul, Ibnu Hazm langsung menguntitnya. Seperti kisah remaja pada umumnya, kisah cinta Ibnu Hazm penuh dengan romantika. Jika dikejar, si gadis berlalu dengan malu-malu dan rona wajahnya memerah. Tentang perilakunya yang terbuai itu Ibnu Hazm menulis, “Saya ingat benar bagaimana ketika saya selalu pergi ke ruangan tempat ia tinggal. Rasanya saya selalu ingin menuju pintu itu agar bisa dekat dengannya. Begitu ia melihat saya di dekat pintu, dengan gerakan lemah gemulai ia pergi ke tempat lain. Saya pun menguntitnya sampai ke pintu ruangan tempat ia berada.”

Ibnu Hazm, sebagaimana semua ulama dan agamawan, menyatakan bahawa cinta yang terbesar adalah cinta kepada Allah dan cinta antara sesama manusia yang dijalin kerana Allah swt. Cinta antara sesama manusia, antara lain cinta antara lawan jenis, jika terjalin kerana Allah, pasti diliputi oleh kesetiaan dan kesucian.

Ibnu Hazm al-Andalusi, seorang pakar hukum Islam menulis pengalaman peribadinya antara lain: “Seandainya bukan kerana keyakinan bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan negeri kekeruhan, sedangkan syurga adalah tempat peroleh ganjaran, kita akan berkata bahawa hubungan harmonis antara kekasih merupakan kebahagiaan tanpa kekeruhan, kegembiraan tanpa kesedihan, kesempurnaan cinta dan puncak harapan.”

Selanjutnya, ulama besar itu berkata: “Aku telah merasakan kelazatan dengan aneka ragamnya. Aku juga telah meraih keberuntungan dengan segala macamnya. Tidaklah kedekatan kepada penguasa, tidak juga wujud setelah ketiadaan, atau kembali ke pangkuan setelah bepergian jauh, dan tidak juga rasa aman setelah mengalami rasa takut, atau perolehan harta yang dimanfaatkan, tidaklah semua itu, seindah hubungan harmonis/asmara dengan kekasih/lawan jenis kita.

Memandang Cinta

Menurut Ibnu Hazm, cinta itu sulit diuraikan. Tetapi pada orang yang jatuh cinta terdapat pertanda.

  1. Kecanduan memandang orang yang dikasihi.
  2. Segera menuju ke tempat kekasih berada, sengaja duduk di dekatnya dan mendekatinya.
  3. Gelisah dan gugup ketika ada seseorang yang mirip dengan orang yang dicintainya.
  4. Kesediaan untuk melakukan hal-hal yang sebelumya enggan dilakukannya

Adapun yang mencoreng cinta menurut Ibnu Hazm adalah berbuat maksiat dan mengumbar hawa nafsu.

Cinta Di Mata Seorang Ulama

Akan menghinalah mereka yang tak mengenal cinta
Sungguh cintamu padanya wajar adanya
Mereka kata, cinta buat kau gila
Padahal kau orang paling faham agama

Ku katakan pada mereka
Mengapa kalian iri padanya?
Jawabnya
Kerana ia mencinta dan dicintai pujaan jiwa

Bila masanya Muhammad mengharamkan cinta
Dan apakah ia menghina umatnya yang jatuh cinta
Janganlah kau berlagak mulia
Dengan menyebut cinta sebagai dosa

Janganlah kau pedulikan apa kata orang tentang cinta
Entah yang berkata keras atau halus biasa
Bukankah manusia harus menetapi pilihannya
Bukankah kata tersembunyi tak bererti diam seribu bahasa

Minggu, 26 September 2010

Makna Laa ilaaha illallah

Kalimat laailaaha illallah adalah bentuk kesaksian seorang muslim yang terformulasi dalam kalimat syahadat. Sebuah kalimat pendek namun esensial dalam kehidupan seorang muslim. kalimat yang menjadikannya masuk dalam komunitas muslim dan mengantarkannya kepada Allah dalam keadaan tunduk patuh kepadaNya. kalimat ini adalah ruh mkati dan hidupnya seorang muslim ( walatamuutunna illa waantum muslimun )

Menurut Muhammad Said Al Qathani (1994 :30-1 ), kalimat laailaaha illallahu mencakup beberapa pengertian.

a. Hanya Allah yang patut disembah ( La Ma’buda Illallah )

b. Hukum mutlak bersumber dariNya ( La Hukma Illallah )

c. Tiada penguasa mutlak kecuali Allah, Dia lah Rabb semesta alam, penguasa dan pengatur ( La Malika Illallah )

d. Tiada pencipta kecuali Allah ( La Kholiqo Illallah )

e. Tidak ada yang memberikan rizki selain Allah ( La Raziqo Illallah )

f. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan kecuali Allah

g. Tidak ada yang dapat mendatangkan kemanfaatan dan kemedharatan kecuali Allah

h. Tidak ada daya dan upaya kecuali Allah

i. Tidak bertawakal kecuali kepada Allah

j. Allah sebagai pusat orientasi dan kerinduannya.

Melihat pengertian Laailaaha illallah ini dapat dipahami bahwa seluruh pusat orientasi kehidupan seorang muslim adalah Allah. namun kesaksian yang benar dalam Islam tidak hanya terhenti pada pengucapan lisan dan pembenaran dalam hati, begitu juga tidak hanya memahami maknanya secara benar, tapi harus disertai dengan mengamalkan segala ketentuannya, baik secara lahiriyah maupun bathiniyyah. Dengan Laailaaha illallah seoarang muslim tidak hanya meniadakan sesembahan selain Allah semata. kalimat tauhid ini sekaligus mencakup loyalitas dan bersih diri ( Al wala’ wal bara’ ) serta negasi dan afirmasi ( Al Nafy wal itsbat ).

Konsep Al Wala’ dalam kalimat tauhid adalah aspek kepatuhan dan kesetiaan secara tulus ( loyal ) terhadap Allah, kitab, sunnah dan nabiNya, sedangkan al bara’ adalah bersih diri dari segala kendali thagut dan hukum jahiliyyah. Adapun An Nafiy ( peniadaan atau negasi ) bermakna meniadakan sesuatu yang menyaingi pengesaan kepada Allah, misalnya sesembahan perantara, tuan, tandingan dan thagut. dan Itsbat ( penetapan, afirmasi ) terhadap empat perkara yaitu tujuan akhir ( yang kita tuju adalah Allah ), kecintaan kepada Allah, takut dan berpengharapan kepadaNya (al Qathani, 1994:6-8 )

Wallahu a’lam

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak bahagia.

Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. ” Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak tua itu, sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini., untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua itu, kembali menaburkan segenggam garam, kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang, diaduk-aduk dan terciptalah riak air, mengusik ketenangan telaga itu. ” Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, pak tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”

“Segar.” Sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu tadi?“, tanya pak tua lagi. “Tidak, jawab si anak muda.

Dengan bijak, pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh dipinggir telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kegetiran dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu lalu kembali memberikan nasihat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar dari itu. Dan pak tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan ” segenggam garam” . untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Tolong Jaga Mata Saya Baik-Baik !!!

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena dia buta. Dia membenci semua orang, kecuali pria kekasih tercintanya. Dia selalu ada untuknya. Gadis itu mengatakan kalau seandainya dia bisa melihat, maka dia akan menikahi pria kekasihnya itu.

Suatu hari, seseorang mendonasikan sepasang matanya untuknya agar dia bisa melihat segalanya, termasuk kekasihya itu. Kekasih prianya itu bertanya padanya, “karena sekarang kau sudah bisa melihat, apakah sekarang engkau mau menikahiku?”. Gadis itu shock dan kaget karena kekasihnya itu ternyata juga buta, dan dia menolak untuk menikahinya.

Pria itu pun pergi dengan berderai air mata, dan beberapa waktu kemudian dia menuliskan surat untuk gadis itu.
“TOLONG JAGA MATA SAYA BAIK-BAIK…..”

Beginilah manusia berubah ketika status mereka berubah. Hanya beberapa orang yang mengingat seperti apa hidupnya dahulu, dan siapa yang telah menemaninya pada saat-saat menderita.

Hati-Hati dengan Hati !

mungkin kau tidak akan pernah mengerti arti pedih, jika engkau belum pernah dikhianati. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh yang pernah sengsara, kesengsaraan cuma dirasakan orang yang pernah bahagia. Sedangkan orang yang sudah terbiasa dengan kepayahan, meski tiap hari didera kekurangan ia akan tegak melanjutkan hidup.

Aku bahagia berada diawal, walau tidak berada di akhirnya

Memiliki idealisme itu bagus,tapi jangan sampai itu menjadi hijab bagi penerimaan hati kita dengan keadaan dan kenyataan yang ada saat ini

Berusaha mencintai orang yang belum dikenal itu jauh lebih mudah, ketimbang harus membenci orang yang pernah kita sayangi

Hati selamanya akan senantiasa bergerak dinamis, ia akan terus berubah-ubah setiap waktu, maka tak ada jaminan bagi kelanggengan perasaan kita, saat ini boleh cinta,tapi diwaktu lain bisa saja membencinya setengah mati,atau pun sebaliknya. Berbahagialah orang yang tidak terjebak oleh cinta.

Ketika masih kecil,ingin cepat jadi orang dewasa, biar bebas tidak diatur oleh orang dewasa,bisa main kesan-kemari,dan akhirnya kawin dan punya anak,barulah terasa,betapa enaknya jadi anak kecil. Itulah manusia, selalu mengharapkan sesuatau yang bukan haknya.

Kejujuran Sang Pembohong

Sahabat Abu Hurairoh pernah diamanati oleh Rasululloh Saw untuk menjaga barang-barang zakat fithrah yang berupa gandum. Suatu malam seorang maling datang mengambil gandum sebanyak-banyaknya. Abu Hurairoh segera menangkapnya,” Kamu akan saya laporkan kepada Rasululloh.” Si pencuripun merajuk, mohon ampun. Ia mengaku sebagai orang miskin yang mencuri makanan,” Saya berjanji tak akan melakukannya lagi,” katanya.

Karna kasihan maka akhirnya Abu Hurairoh melepaskannya. Esok hari, ketika ia menghadap Rasululloh Saw, beliau sudah tahu apa yang terjadi tadi malam,” Abu Hurairoh, apa yang kamu lakukan terhadap orang yang kamu tangkap tadi malam ?” Beliau lalu menceritakan apa yang dialaminya.” Kamu di bohongi, wahai Abu Hurairoh. Lihat saja nanti malam, dia akan mencuri lagi.

Benar saja, dari pengintainya Abu Hurairoh melihat pencuri itu mengendap-endap dan mengambil gandum dari gudang,” Kali ini aku takkan melepaskanmu,” katanya pada diri sendiri. Lalu ditangkapnya orang itu,” Kamu akan saya laporkan kepada Rasululloh Saw.” Tapi sekali lagi pencuri itupun merayu dengan kata-kata yang menghiba dan lebih memelas lagi. Abu Hurairoh tersentuh dan melepaskannya lagi. Esok harinya Nabi kembali bersabda,” Ia telah membohongimu wahai Abu Hurairoh, nanti malam ia akan datang lagi.”

Pencuri itu benar-benar bandel. Seperti dikatakan Rasululloh Saw, dia mencuri lgi malam itu.” Tidak ada lagi ampun bagimu,” Kata Abu Hurairoh pada dirinya sendiri. Namun ketika ditangkap, sang pencuri mengeluarkan jurus lain.” Abu Hurairoh, maukah kamu saya ajari sesuatu yang jika kamu lakukan, Alloh akan memberikan manfaat kepadamu,” katanya. Karena para Sahabat Rasululloh Saw senang pada perbuatan yang bagus dan kebajikan, Abu Hurairoh balik bertanya, ” kalimat-kalimat apa itu ?”.

“Begini”, kata pencuri,” Bila kamu tidur bacalah ayat kursi sampai akhir. Nanti dengan kalimat itu Alloh akan menjagamu dari gangguan-gangguan setan”. Setelah mendapat pelajaran ini, Abu Hurairoh lalu melepaskan tangkapannya. Esoknya kembali lagi ke Rasululloh Saw. Beliau bertanya tentang tindakan Abu Hurairoh kepada sang pencuri.” Dia mengajariku tentang suatu kalimat yang ternyata adalah ayat kursi. Pencuri itu bilang, bila saya membaca ayat ini, maka Alloh akan menjagaku dari gangguan setan,” jawab Abu Hurairoh. Rasululloh Saw berkata,” Hai Abu Hurairoh, yang diucapkannya itu betul, meski pencuri itu pembohong.” Beliau lalu bertanya,” Taukah kamu siapa yang datang tadi malam dan malam-malam sebelum itu ? Abu hurairoh menjawab,” Tidak tau ya Rasululloh.” Nabi bersabda,” Dia itu setan.” ( Shahih Bukhori, III/88 Hadits Nomer 2311 )

Pelajaran apakah yang dapat anda ambil dari kisah itu ???

Cara Mudah Mengetahui Lailatul Qodar

Kapan lailatul qodar? Imam nawawi atau yang lainnya memilih pendapat yang menyatakan lailatul qodar itu berpindah-pindah, menurut al imam al-ghozali atau yang lainnya menyatakan : ” bahwa lailatul qodar itu bisa diketahui dengan melihat hari pertama dari bulan romadhon. Apabila awal romadhon ;

Ahad atau rabu _______ laitul qodarnya tanggal 29

Senin _______________ laitul qodarnya tanggal 21

Selasa atau jum’at______ laitul qodarnya tanggal 27

Kamis ______________ laitul qodarnya tanggal 25

Sabtu _______________ laitul qodarnya tanggal 23

Syaikh Abu al-Hasan : ” Mulai menginjak usia dewasa, aku belum pernah ketinggalan lailatul qodar dengan menggunakan kaidah ini.

Menyikapi Ujian Tuhan

Betapa banyaknya kenyataan-kenyataan didunia ini, kadang realita itu kehadirannya tidak kita harapkan. Sesuatu yang sudah kita rencanakan dengan matang kadang tidak mampu terwujud, justru yang tidak kita harapkan datang dengan gagahnya, seakan ia berkata ” inilah jatahmu nak ! terimalah daku dengan kedua tanganmu !”. jika sudah demikian, bermacamlah sikap kita dalam merespons tamu tak diundang ini.

Kecewa? Hampir bisa dipastikan, kadang bercampur juga dengan kebingungan, bimbang, lesu, dan yang paling berbahaya adalah putus asa.

Apakah ini wajar?

Sebagai manusia, tentu ini wajar. Dan saat-saat seperti inilah sebenarnya kita benar-benar diuji, seberapa pantas kita menyandang predikat “dewasa”. Tidak banyak orang yang mampu menyikapi masalah ini dengan arif dan bijaksana, tak jarang malah mencari “kambing hitam”,dengan menyalahkan sebab, situasi atau malah menyalahkan diri sendiri.

Yang harus di sadari

  • Setiap manusia akan diuji sesuai kadar kemampuannya, meski waktu ujian itu datang pertama kali kita merasa tidak sanggup menerimanya, tapi percayalah Alloh tidak mungkin menimpakan ujian diluar batas hambaNya.
  • Menerima fakta adalah modal awal untuk selanjutnnya menentukan arah penyelesaian, tanpa penerimaan, akan sulit menentukan solusinya. Ibarat orang sakit, ia akan mencari obat atau pergi menemui dokter, ketika dia merasa dan mengakui kalau ia sakit.
  • Konsisiten dengan langkah yang sudah kita mulai, kebanyakan dari kita akan surut ke belakang manakala ditimpa musibah, seseorang yang kena tipu,tidak akan banyak membantu jika hanya meratap setiap hari di dalam kamar tidurnya. Sebaliknya jika kita tetap tegar dengan menjalani aktifitas keseharian, pintu pertolongan terbuka lebar.
  • Kembali ke jalan-Nya, bisa jadi musibah adalah cara Alloh mengingatkan kita, kalau demikian,musibah akan segera berakhir, ketika kita menyadari kealpaan kita, dengan muhasabah dan taubat sebagai solusinya.
  • Do’a, satu hal ini tidak bisa kita acuhkan manfaatnya, bukan saja sebagai kekuatan dan dukungan spritual, tapi juga wujud penyerahan diri, pengakuan seorang hamba, bahwa dibalik setiap usaha, ada satu kekuatan yang Maha Menentukan, dialah Alloh Azza wa Jalla.

Apapun Wujudnya,Harus Disyukuri

Bersyukur Karena Sakit GG

Sekiranya kapan-kapan kita diberi sakit gigi, sehingga kadang malam malam harus begadang qiyamul lail karena sakitnya snut-snut sampai ke ubun-ubun, maka yang patut kita pikirkan adalah kebaikan Allah memberikan sakit gigi itu kepada kita. Kita harus selalu berbaik sangka kepada diri sendiri dan kepada Allah yang telah memberikan rasa sakit kepada kita.

Pertama yang kita khusnudzani adalah bahwa Allah sangat cinta kepada kita. Dia memberikan sakit gigi, karena Allah tidak mau kita terlalu banyak makan. Sakit gigi semacam peringatan dan teguran yang ampuh tentang pembatasan perut agar tak menjadi kuburan binatang terus menerus. Karena manusia adalah binatang pemamah biak, maka binatang dan segala hal yang diklaim halal langsung digiling mulutnya untuk dikubur di perutnya.

Padahal halal dan haram juga kaitannya dengan cara kita makan. Kalau kita makan berlebihan, maka kita bisa dikatakan sebagai golongan musrifin (orang-orang yang berlebihan) yang tidak dicintai oleh Allah. Anugerah Allah berupa sakit gigi adalah bentuk ekspresi cintaNya kepada kita. Kita selalu dicintainya, karena terhindar dari memperturutkan cita rasa mulut dan selera abdul butun.

Allah mencintaimu dengan memberikan sakit gigi dengan alasan, Allah cinta dengan kesehatanmu. Hawa nafsu mulut yang tidak terkontrol bisa mengakibatkan penumpukan lemak yang mempunyai turunan penyakit yang sangat banyak. Lemak bisa menyempitkan jalannya oksigen ke otak, sehingga bisa jadi tanpa disadari kita sedang diintai strok yang mengancam umur panjang kita.

Orang yang kebanyakan makan biasanya malas bekerja, laksana ular yang habis menelan babi. Pada bulan Ramadhan aku selalu merasakan bergairah dalam jumpalitan shalat tarawih saat perut ini tidak terlalu penuh terisi. Kita bisa merasakannya. Kalau rasa malas diperturutkan, maka aktivitas yang paling mengasyikkan adalah tidur. Rasa malas dan tidur adalah ivestasi keterpurukan masa depan kita di ranjang rumah sakit.

Kok bisa begitu? Ya.. karena ketika kita makan terlalu kenyang dan memperturutkan diri untuk bermalasan tidur ba’da makan, maka olahan karbonhidrat yang menjadi glukosa yang sejatinya sebagai bahan bakar energi kita akan mengendap bertumpuk tak terpakai. Apa akibatnya? Semakin menumpuk bahan bakar glukosa, maka pada titik kulminasinya akan menjadi penyakit yang biasa disebut sebagai penyakit gula, kencing manis, diabetes milletus.

Penyakit ini bisa mengasingkan kita dari kebiasaan manusia. Kita akan menjadi manusia seje dewe. Sebagai pengidap diabetes tentunya manusia tidak bebas memakan beras yang kandungan karbonhidratnya tinggi, ia harus cari beras yang berlabel For Diabetic. Untuk minum juga ia harus mencari gula yang special. Pokoknya semuanya harus berbeda dari manusia sehat.

Survei ku sementara mengatakan bahwa sangat jarang petani sejati yang terkena penyakit kencing manis ini. Karena petani tiap pagi mengeluarkan keringat di bawah terik matahari. Ia benar-benar menjadi manusia manfaat. Ia tidak mau dikatakan sebagai sahabatnya setan, karena telah mubadzirkan tumpukan energi glukosa tanpa dipakai untuk kerja keras. Saya tidak mau mengatakan bahwa orang yang terkena penyakit kencing manis sebagai pemalas, tetapi biasanya ia jarang melakukan aktifitas yang memeras keringat. Mungkin kerjaannya terkait dengan kerja otak.

Kita sangat bersyukur seandainya hari ini kita semua masih diberi anugerah snut-snut sakit gigi, karena ekspresi cinta Allah tidak mesti dengan anugerah kenikmatan-kenikmatan versi manusia, karena kenikmatan-kenikmatan itu telah terbukti melalaikan manusia untuk mengingat Tuhannya. Alquran sendiri mengajarkan bahwa apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang baik menurut Allah sudah tentu baik bagi kita, tapi kita sering tak menyadarinya.

Bagaimana Allah menegur kita, sebagaimana cerita dua tukang batu yang bekerja di bangunan bertingkat. Yang satu di atas dan temannya di bawah. Tukang batu yang di atas ingin memperingatkan agar temannya menyingkir, karena sebentar lagi bongkahan batu semen akan dijatuhkan. Tapi, teriakan peringatannya itu tak di dengar telinga temannya yang lagi sibuk di bawah. Sekali lagi ia berteriak, tapi tiada respon sama sekali. Karena suaranya semakin serak, maka tukang batu memutuskan untuk melemparkan kerikil ke arah temannya. Mendadak teman itu menoleh ke atas karena ada sengatan kerikil yang menyentuhnya. Langsung tukang batu memberi aba-aba agar ia menyingkir supaya tidak tertimbun bongkahan yang besar.

Rasa cinta Allah mengekspresikan teguran yang kadang sedikit terasa sakit, tetapi bertujuan agar kita mempunyai investasi kesehatan masa depan, investasi umur panjang. Kita harus rela sedikit sakit terkena lemparan kerikil untuk menghindari timbunan bongkahan batu yang mematikan. Dan tanpa sentuhan kerikil kadang manusia tak mau mendongak ke atas mengingat Tuhannya. Manusia sebagaimana tabiatnya menus-menus kakean dosa lebih mudah sadar dengan peringatan yang menyakitkan daripada limpahan nikmat yang sering melalaikan.

Alhamdulillah Aku jadi Tukang Sampah

Seandainya saya di masyarakat sekarang menjadi tukang sampah. Maka sudah sepatutnya berbangga hati, karena saya sekarang sebagai pelopor dawuh kanjeng Nabi “kebersihan adalah bagian dari Iman”. Kalau ada seorang Kiai tidak terima atas kepeloporanku dengan alasan karena beliau yang lebih tahu tentang dalil kebersihan dan beliaulah yang sering menyampaikannya di pengajian-pengajian, maka itu salah. Karena kualitas manusia dilihat dari kerja kerasnya dan manfaatnya atas orang lain, bukan anjuran yang tak bisa dilaksanakan, karena akan berbuntut menjadi hamba yang dibenci. Amat besar kebencian Allah kepada orang yang bisa ngomong dan tak bisa melakukannya.

Aku justru menjadi heran, karena kenapa Pesantren yang menjadi pelataran rumah ajaran Islam justru sebagai biang kerok kejorokan dan kekotoran. Mungkin karena sebagian ajaran agama salah diajarkan. Contoh kecil saja, kalau seandainya thaharah diajarkan tidak hanya sebagai bersuci, tetapi sebagai kebersihan, maka santri akan mementingkan aktivitas kebersihan: pemilahan sampah, daur ulang sampah, pemanfaatan sampah, daripada sekedar bersuci: berwudlu, mandi, istinja.

Walaupun masyarakat tak begitu menghargai pekerjaan saya, aku tetap berbangga karena atas kehadirankulah manusia sekampung tidak jadi menanggung dosa. Menurutku pengolahan sampah adalah bagian dari fardlu kifayat yang seharusnya ditanggung tiap orang sekampung. Dalam pengertian sebenarnya, setiap orang kampung harus mempunyai andil dalam urusan fardlu kifayat ini, bukan saling menjagakan. Tetapi orang-orang hanya saling njagaake kepada yang lainnya, maka aku rela untuk mewakili dan memikul tanggung jawab kifayat manusia sekampung, minimal se RT. Bukankah itu pekerjaan mulia dan unik, karena satu kampong hanya saya yang berprofesi sebagai pendulang sampah, tak ada saingannya.

Aku harus berbangga, karena dengan begitu, pada masa mendatang aku mempunyai investasi jawaban atas pertanyaan malaikat kubur, yang tega menanyakan siapa saudaramu? Aku tentu bisa menjawab dengan perbuatanku dan pengabdianku kepada tetangga-tetangga untuk menyiangi sampah yang saban hari menghias di setiap pelataran rumah warga. Aku akan mejawab “orang Islam laki-laki dan perempuan adalah saudaraku” buktinya “setiap hari akulah yang membersihkan perkampungan Paesan dengan cucuran keringat dan keikhlasan, itulah ekspresi rasa cintaku kepada mereka.” Maka aku akan balik bertanya kepada malaikat, “bagaimana dengan ekspresi rasa cintamu kepada saudaramu, apa yang sudah kau lakukan?”

Satpam = Mukmin

Seandainya aku sekarang menjadi seorang satpam, maka itu adalah pekerjaan anugerah yang tiap kali harus aku syukuri. Gelarku saja oleh Allah diberi nama khusus sebagai mukmin yang mempunyai kesejatian makna: bukan sekadar orang yang beriman, tetapi orang yang menebarkan keamanan. Buktinya orang-orang tak ragu lagi untuk mempercayaiku menjaga tumpukan uang di bank. Orang mempercayaiku sebagai penjaga keamanan di rumah sakit, perumahan, kantor-kantor. Intinya orang bisa berlega hati, karena kehadiranku. Orang bisa merasa aman karena kawalanku.

Akulah seorang mukmin sejati. Karena hakekat keimanan seseorang itu diukur dari perbuatan, ucapannya yang bisa memberi keselamatan dan rasa aman kepada orang sekelilingnya. Banyak orang mengaku beriman tetapi dia tidak mukmin karena kehadirannya membawa keresahan bagi orang lain. Jadi pekerjaanku sebagai satpam bukan bertujuan untuk sekedar menunggu gaji ditiap bulannya, tetapi pekerjaan ini adalah amanat Allah yang sedikit orang mempunyai kesempatan untuk memikulnya.

Pemulung Pekerjaan Mulia

Sendainya aku sekarang sebagai pemulung, maka aku tiap kali akan bersujud syukur kepada Allah, karena pekerjaanku sangat mulia. Di saat dunia semakin panas, dan para ilmuan lingkungan menganjurkan kita untuk mendaur ulang barang-barang, agar tidak terjadi polusi dan pemborosan-pemborosan, maka akulah salah satu orang yang dipersilahkan oleh Allah untuk ikut andil dalam bagian usaha perbaikan saving earth itu.

Aku sangat bangga menjalani profesi ini. Karena plastic yang rencananya akan menjadi bagian dari polutan tanah, menjadi batal karena ikhtiarku menjumputinya. Gudang-gudang tumah tangga yang dipenuhi barang-barang apkiran dipasrahkan kepadaku agar aku membersihkannya, maka usaha itu bagiku sangat mulia, karena aku terlibat dalam usaha agama, agar diantara manusia tidak menumpuk-numpuk hartanya yang berupa barang-barang, entah itu elekttonik dan lainnya.

Kalau perusahaan-perusahaan mengatur waktu kerja atau shift karyawan dengan ketat, maka aku bisa bekerja kapan saja, seikhlasku dan sekeras-keras kerjaku tanpa ikatan waktu dan aturan: aku harus begini dan begitu. Tanpa harus berseragam aku juga bisa membuat hidup menjadi lebih hidup, karena menyaku lembaran rupiah dari hasil keringatku.

Kalau orang resah butuh menyewa tempat untuk membuka lahan usahanya, mereka tambah resah lagi ketika melihat aksi satpol PP di pinggiran jalan kota menertibkan pedagang kakilima, maka aku tak akan pernah resah, karena lahan pekerjaanku seluas kaki ini malangkah, selebar bumi ini ku pijak.