Obyek Wisata Air Terjun Bajuin

Desa Sungai Bakar Kec.Bajuin Kab.Tanah Laut (10 Km dari kota Pelaihari)

Obyek Wisata Pantai Takisung

Desa Takisung Kec.Takisung Kab.Tanah Laut (22 Km dari kota Pelaihari)

Obyek Wisata Pantai Batakan

Desa Batakan Kec.Panyipatan Kab.Tanah Laut (40 Km dari kota Pelaihari)

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Desember 2010

Dasyatnya Kekuatan Istighfar

Kehidupan manusia di dunia ini sarat dengan masalah. Rasanya, hampir tidak ada orang yang tidak punya masalah. Semua orang punya masalah. Besar kecilnya masalah setiap orang berbeda-beda, demikian pula dengan jenis masalah yang dihadapinya. Masalah finansial, masalah cinta, masalah keluarga, masalah kesehatan, ataupun masalah-masalah lainnya.

Munculnya masalah, apapun jenisnya, pasti menuntut adanya solusi. Bila solusi itu belum datang, kening sebagian orang sering dibuat berkerut dan wajahnya selalu cemberut. Malah ada yang stres, atau bahkan sampai bunuh diri. Semua tergantung kekuatan mental dan kesabaran seseorang dalam menghadapinya. Untuk mendapatkan solusi atas masalah yang dihadapi, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda pula. Tentunya, hal itu juga tergantung jenis masalah yang dihadapi. Dalam masalah kesehatan misalnya, ada sebagian orang yang lebih memilih cara realistis, yaitu dengan cara berobat ke dokter. Tetapi ada pula yang memilih cara yang dianggap sebagian orang kurang realistis, seperti dengan melakukan pengobatan alternatif. Menurut saya, apapun caranya yang penting tidak bertentangan dengan syariat Islam. Di sini, saya hanya ingin mengingatkan satu hal yang sering terlupakan oleh kita. Apa itu?

Dialah istighfar. Istighfar adalah permohonan ampunan kepada Allah swt. atas kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Loh, apa kaitannya antara masalah yang kita hadapi dengan dosa atau kesalahan yang telah kita lakukan? Memang tidak ada yang bisa menafsirkan secara pasti keterkaitan antara keduanya. Tidak ada yang dapat memastikan, munculnya masalah dalam kehidupan seseorang adalah akibat dosa yang telah dia lakukan. Sebab, ada kemungkinan pula munculnya masalah tersebut hanya sebagai cobaan baginya, apakah dia kuat menghadapinya ataukah tidak. Yang mengetahui secara pasti hanyalah Allah swt..

Tetapi bila kita kembali kepada konsep cinta, maka kita dapat mengetahui mengapa kita harus memperbanyak istighfar, apalagi saat sedang menghadapi masalah. Biasanya, seseorang yang mencintai orang lain, apalagi bila cintanya begitu menggebu-gebu, maka dia rela memberikan apa saja yang dia miliki kepada orang yang dicintainya. Demikian pula dengan Allah, bukan maksud hati ingin menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya. Tetapi dalam masalah cinta, ternyata aturan yang ditetapkan Allah pun hampir sama.

Dalam sejumlah ayat atau hadits, kita dapat melihat bahwa bila Allah telah mencintai seseorang, maka apa yang dia minta akan dikabulkan oleh-Nya. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah swt. berfirman: “Jika Aku telah mencintainya, maka aku akan menjadi pendengaran baginya yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan baginya yang digunakannya untuk melihat, tangannya yang akan digunakannya untuk berbuat dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kepadanya (apa yang dia minta); dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, maka Aku akan memberikan perlindungan itu kepadanya.”

Allah swt. mencintai orang-orang yang bertakwa, dan Dia akan memberikan kemudahan dan jalan keluar bagi setiap masalah yang mereka hadapi. Allah berfirman: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 2-3) Di ayat lain, Allah juga berfirman: “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 4)

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita dapat dicintai Allah? Mungkin jawabannya ada pada pepatah Jawa yang berbunyi “Witing tresno jalaran soko kulino” (Munculnya cinta adalah karena kebiasaan), atau pepatah Indonesia yang berbunyi “Tak kenal maka tak sayang”. Artinya, untuk mendapatkan cinta Allah, seorang hamba harus melewati tahap PDKT (pendekatan). Tanpa melewati tahap tersebut, sulit rasanya seseorang dapat meraih cinta Allah. Lalu, bagaimana caranya melakukan pendekatan (atau dalam bahasa Arabnya disebut taqarrub) kepada Allah?

Salah satunya adalah dengan cara memperbanyak dzikir. Allah swt. berfirman: “”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan).” (QS Albaqarah [2]: 152). Salah satu cara berdzikir adalah istighfar. Dengan istighfar, berarti seseorang memohon kepada Allah agar dosa-dosanya diampuni. Bila permohonan ampunannya itu dikabulkan Allah, maka berarti dosa-dosanya akan diampuni Allah. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi tirai yang menghalangi kedekatan antara dirinya dengan Allah. Sebab, dosa merupakan tirai penghalang antara seorang hamba dengan Allah.

Tetapi perlu diingat, istighfar yang dimaksud di sini bukanlah istighfar sebatas ucapan saja, atau hanya diucapkan dalam mulut saja. Tetapi harus benar-benar diresapi, dihayati dan diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Maksudnya, seseorang yang beristighfar harus benar-benar mengakui kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, menyesalinya dan berjanji tidak akan mengulanginya. Di akhir tulisan ini, saya ingin menyebutkan satu kisah yang mudah-mudahan dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Konon, di Mesir ada seorang laki-laki kaya yang shaleh. Selama beberapa hari, dia tidak menemukan satu cara pun untuk mengairi sawah miliknya hingga tanam-tanaman yang ada di dalamnya hampir mengering. Dia pun duduk di tengah sawahnya yang luas itu. Lalu dia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berfirman dan sungguh firman-Mu selalu benar: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.’ Wahai Tuhan, sekarang aku memohon ampunan kepada-Mu dengan harapan Engkau akan melimpahkan rahmat-Mu kepada kami.” Kemudian orang itu memohon ampunan kepada Allah selama beberapa jam dengan penuh semangat dan keyakinan akan janji Allah swt.. Tidak lama kemudian, langit tertutup awan, lalu hujan pun turun dengan derasnya. Sebagaimana diketahui, ketika orang-orang shaleh tertimpa satu masalah, maka mereka langsung memohon pertolongan kepada Allah dengan cara beristighfar kepada-Nya, hingga terwujudlah janji Allah yang diberikan kepada mereka: “dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu”.
Wallaahu A’lam

Rabu, 03 November 2010

"SETIAP ANAK ADAM PERNAH BERBUAT SALAH”

Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Namun ada juga orang-orang pilihan Allah SWT yang tidak pernah berbuat dosa, akan tetapi mereka pernah melakukan kesalahan-kesalahan kecil dan Allah SWT langsung menegurnya. Mereka itu adalah para Nabi dan Rasul, yang menjadi suri tauladan bagi pengikut-pengikutnya, mereka diberi Allah SWT sifat ma’shum (dijaga agar tidak berbuat dosa). Sekalipun tidak pernah berbuat dosa, para Nabi itu juga pernah berbuat kesalahan-kesalahan kecil…yang kemudian diingatkan langsung oleh Allah agar segera diperbaiki. Sebagai contoh beberapa kesalahan kecil yang pernah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul antara lain:

  • Kesalahan nabi Musa saat berguru kepada nabi Kidir. Nabi Musa kurang bersabar dalam menerima ilmu dari nabi Kidir hingga 3 kali melakukan kesalahan yang sama, sehingga nabi Kidirpun akhirnya meninggalkan nabi Musa.
  • Kesalahan nabi Yunus, kurang sabarnya dalam berdakwah dalam membimbing kaumnya. Dalam dakwahnya tidak satupun kaumnya yang mau mengikuti ajaran nabi Yunus sehingga nabi Yunus putus asa dengan meninggalkan kaumnya… Kesalahan nabi Yunus ini harus ditebus berupa ujian dari Allah, ditelannya nabi Yunus dalam perut ikan Paus selama beberapa hari hingga akhirnya dimuntahkan ke daratan…agar kembali lagi berdakwah kepada kaumnya, yaitu kaum Niwana. Ternyata kaum nabi Yunus sangat merasa kehilangan dengan perginya nabi Yunus dan akhirnya seluruh penduduk Niwana kembali mengikuti ajaran nabi Yunus.
  • Kesalahan Rasulullah Muhammad SAW:

- Saat beliau berjanji kepada umatnya yang menanyakan berapa tahun pemuda-pemuda Kahfi ditidurkan Allah…didalam goa dan Rasul begitu yakin bahwa keesokan harinya pasti Allah memberi tahu Rasul lewat turunnya wahyu melalui malaikat Jibril. Kesalahan Rasul ini, Allah langsung menegurnya hingga turun surah Al-Kahfi [19]: ayat 23 dan ayat 24.

- Kesalahan Rasulullah Muhammad yang lain adalah saat berjanji pada istri-istrinya (akibat saling cemburu istri yang satu dengan yang lain) bahwa Rasul berjanji selamanya tidak akan minum madu. Kesalahan ini, Allah langsung menegurnya lewat turunnya surah At-Tahrim [66]: ayat 1 s/d ayat 5.

Diriku, dirimu dan diri kita semua (yang merasa sebagai manusia) tidak akan pernah luput dari yang namanya “dosa”. Manusia hanyalah makhluk yang lemah, sebagai hamba yang dhoif, yang sering berbuat khilaf dan salah, yang sering lalai dan lalai lagi. Manusia bukanlah malaikat atau seorang nabi yang selalu mentaati dan tunduk patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Nabi dan Rasul adalah juga manusia biasa. Nabi dan Rasul diberi kelebihan oleh Allah SWT :

  • Dijaga oleh Allah dari dosa
  • Sebagian bisa langsung menerima wahyu dari Allah dan sebagian melalui perantara malaikat Jibril.
  • Sebagian diberi mukjizat untuk meyakinkan umatnya.

Tugas utama Nabi dan Rasul adalah pembawa khabar gembira bagi umatnya yang mau mengikuti ajaran-ajarannya berupa kebagagiaan Surga dan sebagai pemberi peringatan bagi umatnya yang membangkang terhadap ajaran-ajarannya berupa siksa di Neraka nantinya.

Nabi dan Rasulpun dalam dakwahnya penuh denga ujian-ujian dan cobaan-cocaan, seperti antara lainyang dialami oleh:

  • Nabi Ibrahim a.s

Dalam dakwahnya, hanya sedikit umatnya yang mengikuti ajarannya. Mereka masih menyembah ajaran nenek moyangnya (termasuk ayah kandung nabi Ibrahim) yang masih menyembah berhala-berhala.

Disaat seluruh penduduk pergi keluar kota, saat itulah kesempatan nabi Ibrahim untuk menghancurkan semua berkala-berhala kecuali satu berhala yang dibiarkan utuh.

Pagi harinya penduduk dan raja Namrud menenuka seluruh berhala berantakan dan diputuskan nabi Ibrahim sebagai pelakunya harus dihukum dengan “dibakar hidup-hidup”

Atas izin Allah SWT, maka selamatlah nabi Ibrahim dari amukan si jago merah.

Allah berfirman,

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (Al-Anbiyaa [21]: ayat 69)

  • Nabi Ayub a.s

Nabi ayub adalah nabi yang paling bersabar dalam menjalani kehidupannya. Nabi yang suka berinfaq dan sadakah kepada rakyat yang tidak mampu.Cobaan-cobaan yang dialami nabi Ayub luar biasa beratnya namun “hati”nya tetap bertaqwa, beriman dan beramal shalih berupa:

- Dicoba oleh Allah dengan habis seluruh harta kekayaannya, tapi nabi Ayub tetap pada keimanannya kepada Allah SWT.

- Dicoba dengan habis (meninggal) seluruh anak-anaknya ditimpa bencana alam, nabi dan istrinya tetap sabar dan tabah menghadapinya.

- Dicoba oleh Allah dengan penyakit kulit yang amat sangat parah beberapa tahun lamanya, nabi tetap pada kesabarannya tetap pada ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Akhirnya ujian demi ujian berhasil dilaluinya, nabi dikembalikan seperti semula, sehat wal afiat, berkumpul lagi dengan istrinya dan melahirkan putra-putrinya dengan jumlah yang sama ketika sebelum diuji Allah SWT. Hartanya dikembalikan Allah bahkan berlebih. Inilah buah dari ketaqwaan dan kesabaran yang dialami nabi Ayub.

  • Nabi Nuh a.s.

Ratusan tahun nabi Nuh berdakwah dan hanya sedikit didapati umatnya yang beriman, nabi Nuh disuruh Allah SWT untuk membuat kapal dan dipersilahkan hamba-hamba yang beriman untuk ikut dalam kapal sebelum akhirnya seluruh umatnya yang kafir ditenggelamkan oleh Allah SWT termasuk istri dan anak laki-lakinya.

Dan masih banyak lagi ujian-ujian yang dialami oleh nabi-nabi yang lain.

Dosa yang berulang-ulang yang seseorang lakukan telah membuat hatinya resah dan gelisah…, lalu apa kira-kira yang bisa dia lakukan untuk mengatasi dan menghilangkan beban dosa tersebut?

Rasullullah bersabda,

“Setiap anak adam pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang bertaubat” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas)

Di antara hal yang memperkuat akan wajibnya taubat/memohon ampun agar dilakukan secara kontinyu dan secepat mungkin adalah bahwa manusia manapun tidak akan pernah lepas dari kekurangan/ kesalahan, namun setiap makhluk bertingkat-tingkat dalam kekurangan tersebut sesuai dengan takdirnya masing-masing. Dan hal itu akan ditutupi Allah SWT dengan adanya taubat.

Ya, itulah solusi yang “cerdas” bagi siapa saja yang pernah melakukan dosa besar, melanggar larangan Allah SWT, tidak ada solusi lain kecuali hanya dengan bertaubat kepada Allah SWT.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri” (Al-Baqarah [2]: ayat 222)

Siapa yang tidak ingin disukai, siapa yang tidak ingin dicintai dan disayangi oleh Allah yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Kaya, Maha Penyayang, Maha Pengampun? Hanya orang-orang yang kurang waras aja yang menjawab “tidak!”.

Sedangkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beriman ini masih sehat jasmani-ruhani. Alhamdulillah Allah masih memberikan kepada kita kekuatan akal untuk berpikir jalan mana yang harus kita tempuh, Allah masih memberikan kepada kita kekuatan iman untuk terus memperbaiki diri, untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Alangkah ruginya manusia jika menyia-nyiakan kesempatan waktu hidup didunia ini untuk selalu berbuat yang lebih baik dan lebih baik lagi. Alangkah bangkrutnya manusia (yang hatinya masih kotor ini) jika masih saja memberikan kesempatan pada nasfunya untuk berleha-leha, untuk menunda-nunda bertaubat, untuk menunda-nunda memperbaiki diri.

Wahai saudaraku yang dirahmati Allah, jangan menunda-nunda untuk bertaubat, kita harus segera bertaubat sekarang…. detik ini juga…, kapan lagi…selagi nyawa masih melekat dibadan.

Di antara hal yang memperkuat akan wajibnya seseorang untuk beristighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT agar dilakukan secara kontinyu dan secepat mungkin adalah bahwa manusia manapun tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Namun setiap manusia bertingkat-tingkat dalam kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukan sesuai dengan takdirnya masing-masing, dan hal itu insya Allah bisa dihapus atau ditutupi dengan bertaubat kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW sendiri, manusia yang paling sempurna diantara seluruh makhluk ciptaan Allah SAW yang sudah dijamin masuk Surga tanpa hisab, beliau setiap hari selalu memohon ampun / beristighfar kepada Allah SWT minimal 100 kali dalam sehari.

Sudahkah kita sebagai manusia biasa ini melakukan apa yang sudah Rasulullah Muhammad SAW contohkan kepada umatnya untuk selalu beristighfar minimal 100 kali dalam sehari?

Rasulullah bersabda,

“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (H.R. Bukhari)

Sesuai dengan hadits Rasullullah tersebut diatas, maka marilah wahai hamba-hamba Allah untuk bersegera melakukan taubat kepada Allah SWT yang dengan taubat ini akan mensucikan jiwa dari segala kotoran-kotorannya dan membersihkan hati dari segala kotoran hati. Karena dosa-dosa adalah karat yang akan terus menempel dan melekat pada hati dan penghalang dari segala hal yang dicintai Allah SWT. Karat-karat itu kalau dibiarkan akan menghitam dan mengeras bagaikan batu dan karat-karat itu hanya bisa dibersihkan dengan beristighfar ataupun memohon ampun langsung kepada Allah SWT.

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai hamba Allah SWT untuk selalu beristighfar dan bertaubat yang hukumnya “wajib” bagi setiap muslim…, siapapun dan dimanapun dia berada dan tidak bisa ditawar-tawar maupun ditunda-tunda lagi.

Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan dosa, maka akan terjadi bintik hitam didalam hatinya. Jika ia bertaubat dan melepaskan dosa tersebut serta beristighfar, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia menambah dosanya, maka bintik hitam tersebutpun akan bertambah hingga menutupi hatinya” (H.R.Bukhari)

HINDARI TERLALU CINTA DUNIA

Rasulullah Muhammad SAW adalah suri tauladan kaum muslimin (uswatun hasanah) dalam berbagai hal. Segala sikap dan perilakunya bila ditiru akan membuat penirunya menjadi orang yang bahagia dunia dan akhirat. Begitu pula dalam menghadapi kehidupan. Rasulullah telah memberikan teladan melalui ucapan dan tindakannya. Beliau telah memberikan contoh dalam memperlakukan dan memandang kehidupan di dunia ini.

Rasulullah Bersabda,

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)

Itulah sikap yang diajarkan Rasulullah kepada kita umatnya. Dalam hadits yang diceritakan Ibnu Umar dan diriwayatkan Imam Bukhari ini kita bisa mengerti bahwa Rasulullah menginginkan umatnya memiliki sikap zuhud (sederhana) terhadap dunia. Sebab sikap inilah yang akan membuatnya selamat dari jeratan harta kekayaan dan pesona dunia lainnya.

Seorang pengembara (hidup di dunia) atau musafir biasanya hanya akan mengambil dan membawa perbekalan “secukupnya” saja (tidak berlebihan dalam mencari kekayaan). Bila ia kelebihan bekal, niscaya bekal itu akan membebaninya dan dapat membuatnya tidak dapat mencapai tujuan (kebahagiaan Surga).

Begitu pula seorang musafir hanya akan singgah sebentar (hidup di dunia) di perjalanan. Hal itu dilakukannya untuk memulihkan kondisi tubuhnya, agar esoknya ia siap setiap saat untuk melanjutkan perjalanannya dengan baik dan sampai ke tujuan dengan selamat (mencapai Surga).

Kita hidup di dunia ini ibarat seorang musafir, kita seharusnya patuh dan tunduk terhadap petunjuk Allah SWT selama menjalani pengembaraan di dunia ini. Sebab, kepatuhan dan ketundukan kita terhadap semua perintah-Nya akan membuahkan hasil berupa hadiah yang telah dijanjikan-Nya, yaitu Surga.

Begitu pula dengan keingkaran kita terhadap semua perintah-Nya akan membuahkan hasil berupa kemurkaan dan adzab-Nya yang sangat pedih, yaitu Neraka. Apa yang akan kita peroleh kelak…semuanya tergantung bagaimana tingkah laku kita selama menjalani pengembaraan di dunia ini, apakah mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya atau mengingkari petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karenanya, berpedoman kepada Rasulullah dalam menjalani pengembaraan di dunia ini adalah solusi yang terbaik. Bila Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk bersikap zuhud (sederhana) terhadap dunia, maka mengamalkan seruannya adalah cara yang paling tepat. Rasulullah SAW tidak hanya menyeru, tetapi mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Beliau adalah orang yang paling rajin bekerja dan beramal shalih termasuk berinfaq dan sadakah, paling bersemangat dalam ibadah dan paling gigih dalam berjihad.

Kehidupan beliau sangat sederhana. Dalam sirah nabawiyah dan hadits yang diceritakan sahabat, kadang beliau tidak makan sampai tiga hari. Sehingga pernah beberapa kali para sahabat melihat Rasulullah membalutkan kain yang diisi beberapa batu untuk mengganjal perutnya yang sangat lapar. Bahkan pernah suatu waktu Abdullah bin Mas’ud menangis karena melihat Rasulullah SAW hanya tidur di atas tikar dari pelepah kurma yang sangat lusuh. Saat Abdullah bin Mas’ud menawarkan kasur kepadanya, beliau malah menolaknya.

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata,

“Adakalanya Rasulullah SAW dan keluarganya lapar beberapa malam berturut-turut, karena tidak mempunyai apa-apa untuk makan malam, dan roti yang sering mereka miliki adalah roti gandum.” (HR. Tirmidzi).

Itulah Rasulullah SAW yang mulia. Kesederhanaanya tidak membuat wibawanya jatuh. Bahkan sikap hidupnya yang sederhana makin membuat keagungan dan kemuliaan pribadinya. Apa susahnya bagi Rasulullah untuk menikmati harta dan kekayaan sebagai penguasa tunggal pada jamannya?

Beliau adalah seorang pemimpin negara. Harta rampasan dalam setiap peperangan selalu melimpah ruah, akan tetapi yang beliau ambil hanyalah seperlunya saja, hanya untuk kebutuhan beberapa hari saja. Seharusnya kita pengikutnya yang setia memperlakukan dunia sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Hubbud Dunya (cinta dunia)

Saat ini, kita seolah-olah sudah kehilangan figur pribadi yang sederhana. Kondisi ekonomi di Negara kita yang sedang krisis ini tidak menyadarkan kita untuk kembali kepada gerakan hidup sederhana. Justru yang terjadi sebaliknya, masyarakat berlomba-lomba dengan berbagai cara dalam menumpuk-numpuk harta.

Mereka tak peduli lagi mana yang “halal” dan mana yang “haram”. Semua dikumpulkannya hanya untuk memenuhi nafsu perutnya. Kita telah terpedaya oleh budaya konsumtif dan materialistis…yang semuanya itu hanyalah perhiasan dunia…yang semu.

Allah berfirman,

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.(Huud 11]: ayat 15)

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan . (Huud [11]: ayat 16)

Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah haditsnya bahwa akan datang suatu masa dimana sebagian umat Islam perutnya tampak gemuk dan besar, mereka tidak dapat dipercaya dan juga tidak menepati janji. Ini akibat pengaruh adanya makanan haram di dalam perutnya, yang menumbuhkan daging yang karam dalam tubuhnya, sehingga akhlaknya menjadi tidak terpuji.

Oleh karena itulah untuk menghindari apa yang digambarkan Rasulullah sebagian umat yang membuncit perutnya, maka sejak masih kecil biasakan anak-anak kita untuk hati-hati dalam memasukkan makanan ke dalam perutnya, jangan sampai anak-anak kita kemasukan makanan yang haram dan usahakan antara berat tubuh, tinggi baban dan usia anak yang seimbang.

Kalau dari kecil sang anak sudah over weight (kegemukan), maka apa yang dipikirkan sang anak /yang ada dibenaknya hanyalah makan…makan…dan makan. Hal inilah yang akan menurunkan generasi umat Rasul dengan perut membuncit yang sangat kering dan gersang dengan siraman ruhani.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, dan yang sesudahnya lagi.” (HR. Bukhari)

Budaya materialisme yang sedang melanda dunia modern ini, yang sedang mengepung kita adalah satu penyakit yang bila dibiarkan akan mengikis habis keimanan kita. Materialisme ini adalah salah satu turunan dari penyakit cinta dunia (hubbud dunya). Terlalu cinta dunia adalah penyakit yang sangat berbahaya.

Allah berfirman,

Janganlah sekali-kali kamu kagum dan terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.

(Ali-Imran [3]: ayat 196)

Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.

(Ali-Imran [3]: ayat 197)

Penyakit ini muncul pada diri seorang muslim karena melemahnya iman. Oleh sebab itu, menyadarkan umat yang sedang terlena dalam nina-bobo dunia adalah sebuah tindakan yang terpuji. Bila hal ini terus dibiarkan, maka umat Islam berada diambang kemunduran bahkan diambang kehancuran. Kita harus menyadarkan kembali umat Islam dimanapun mereka berada tentang hakikat dunia dan akhirat. Keimanan terhadap hari akhir harus kembali dimunculkan.

Makin “tebal” keimanan terhadap hari akhir dan pembalasan, akan makin takut ia bercengkrama dengan dunia dan menumpuk-numpuk harta. Dengan begitu, akan makin tenang dalam memandang kehidupan.

Sebaliknya, makin “tipis” keimanan terhadap hari akhir dan pembalasan, ia pasti makin rakus dan jahat dalam mencari dunia dan yang mereka pikirkan hanya dunia…dunia…dan dunia, mereka tidak peduli, tidak mau tahu kesudahannya nanti, yaitu kehidupan sesudah hidup di dunia yang fana ini.

Setiap muslim dimanapun kita berada harus mempunyai satu “visi” yang sama dalam mengarungi kehidupan dunia ini… yaitu mendambakan “kebahagiaan dunia-akhirat”.

Untuk mencapai visi kebahagiaan dunia-akhirat tersebut, maka kita umat Islam harus punya satu “misi” yang sama yaitu hidup ini hanya untuk “beribadah” kepada Allah SWT.

Allah berfirman,

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.

(Adz-Dzariyaat [51]: ayat 56)

Pengertian beribadah ini tidak hanya shalat wajib 5 waktu sehari semalam saja, ataupun shalat sunnah yang lain, akan tetapi apapun profesi kita didalam mengarungi kehidupan dunia ini:

  • Sebagai seorang dokter, jadilah dokter yang Islami…, yang yakin seyakin-yakinnya bahwa penyakit datangnya dari Allah SWT dan yang menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT. Dokter adalah hanya sebagai perantara, wakil Allah di bumi ini dalam hal kesembuhan penyakit seseorang. Alangkah mulianya seorang dokter jika setiap mau mengobati pasien diawali dengan do’a, minimal baca “bismillahiraman nirahim” dan diakhiri dengan baca “alhamdulillahi rabbil ‘alamin”.
  • Begitu juga bagi seorang insinyur, dosen, guru, ekonom, hakim, jaksa, sopir, pedagang, ibu rumah tangga dan lain-lain profesi…selama aktivitas sehari-hari mereka diniatkan “ikhlas” hanya untuk Allah SWT (lillahi Ta’ala), maka semua kegiatan sehari-hari yang mereka kerjakan dinilai “ibadah” oleh Allah SWT.

Dengan demikian, mengembalikan umat kepada fitrahnya “hanya untuk beribadah kepada Allah SWT” adalah sebuah keharusan bila kita sebagai hamba-hamba Allah SWT yang bertaqwa ini, yang menginginkan kehidupan yang selamat baik di dunia maupun di akhirat nanti.

“SEHAT ITU MAHAL”

Sehat itu mahal harganya, apabila tubuh kita ini sehat maka kehidupan kita… disadari atau tidak, insya Allah senantiasa merasa tenang, senang, lapang dan beraktifitas dengan maksimal untuk kesempurnaan hidup.Akan tetapi sebaliknya bila tubuh kita tidak sehat dapat dipastikan kegiatan akan terhambat, tidak bersemangat, mudah sekali emosi atau tersinggung sehingga hari-hari akan dilalui dengan suram.

Seperti yang kita tahu bahwa kita sebagai muslim sering mendengar bahwa “Al-Qur’an adalah penyembuh segala penyakit” dan “Tidak akan berubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak mau berusaha untuk merubahnya”.

Berbagai cara digali, dikelola dan diklaim berasal dari Al-Qur’an untuk mengupayakan kesembuhan penyakit. Mulai dari membaca satu atau beberapa ayat hingga sekian puluh kali, ratusan bahkan ribuan kali hingga do’a-do’a khusus yang dibaca agar penyakit bisa berpindah ketubuh hewan. Kesemuanya itu upaya-upaya yang bertujuan untuk kesembuhan suatu penyakit. Selama ikhtiar-ikhtiar untuk kesembuhan tidak ada unsur syirik dan perantara jin / syaitan, maka upaya untuk kesembuhan itu masih diperbolehkan.

Belum lagi yang berikhtiar ke paranormal khusus mohon kesembuhan, pergi kedokter mulai dari dokter umum hingga yang sudah bergelar professor, meminum obat-obatan hingga operasi sampai keluar negeri dengan biaya yang selangitpun dijalani untuk kesembuhan penyakit.

Pertanyaannya adalah apakah semua ikhtiar itu benar? Apakah semua itu pasti berhasil?

Wallahualam pada kenyataannya banyak yang berakhir di ritual-ritual sesat atau berakhir di meja operasi, naudzubillahimindzalik…Semua adalah ikhtiar, semua adalah usaha agar kita menjadi sembuh dan sehat. Selama tidak bertentangan dengan ajaran agama (syirik), insya Allah hal itu sah-sah saja.

Tapi sebenarnya tahukah kita bahwa segala penyakit itu datangnya dari diri kita? Bukan berasal virus, kuman bakteri, nyamuk, mutasi sel dan sebagainya. Memang ketika kita sakit ketika diteliti ada yang namanya virus, kuman, bakteri yang merajalela didalam tubuh kita tapi itu bukanlah sebab… itu hanyalah akibat !!

Ya…. semua yang diklaim sebagai sebab sakit sebetulnya adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, tingkah laku kita sehari-hari yang kurang terpuji dihadapan Allah SWT. Dimana perilaku yang kurang terpuji tersebut menjadikan Malaikat Atid terus mencatat dan mencatat serta melaporkan keburukan-kebukukan kita di hadapan Allah SWT, dimana sudah berjalan bertahun-tahun bahkan mungkin sudah berpuluh-puluh tahun sehingga akhirnya Allah menurunkan suatu musibah berupa penyakit sebagai pengingat kita agar segera kembali kejalan-Nya, jalan yang benar yang diridhai-Nya.

Berbagai hal penyakit ini mungkin luput dari perhatian kita semua, tapi hal itu sudah terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah 14 abad lalu dan sudah dijamin keabsahannya dan kebenarannya serta tak terbantahkan hingga akhir jaman bahkan Allah SWT sendiri yang menjamin dan menjaga keaslian kandungan isi Al-Quran.

Coba kita renungkan ayat-ayat berikut, mari kita baca satu-persatu dengan pelan, teliti dan arif.

Allah berfirman,

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.(As-Syuura [42] : ayat 30-31)

Nah…….sudah jelas disini bahwa apapun musibah itu yang menimpa kita adalah awalnya karena perbuatan kita sendiri, karena kesalahan-kesalahan kita sendiri, karena dosa-dosa kita sendiri, astaghfirullah.. Apakah memang benar seperti itu hanya karena dosa dan kesalahan kita saja dan bukan seperti apa yang sudah kita yakini selama ini bahwa penyakit datangnya dari virus, kuman bakteri, pemanasan global, lapizan ozon dan sederet alasan ilmiah lain? Jawabannya adalah benar!!!

Mengapa terlihat sederhana sekali? Mengapa hanya karena dosa dan kesalahan kita lalu tiba-tiba kita bisa menderita suatu penyakit bahkan hingga yang parah sekalipun? Sebenarnya tidak sesederhana itu, pada ayat diatas Allah sudah menerangkan bahwa dosa dan kesalahan kita banyak sekali diampuni oleh-Nya, karena kita sendiripun tidak akan sadar bahkan mungkin tidak bisa menghitung dosa kita setiap harinya.

Dosa dan kesalahan itu kita kerjakan terus menerus dari hari kehari, bulan ke bulan bahkan hingga berpuluh-puluh tahun, barulah Allah akan menurunkan suatu musibah… dalam hal ini penyakit semata-mata hanya sebagai hukuman, sebagai peringatan, sebagai sentilan, sebagai jeweran bagi kita agar segera sadar bahwa kita memang banyak salah dan dosa agar kita segera mau kembali ke jalan Allah. Sudah jelas disini disebutkan kata-kata “pelindung dan penolong” berarti kalau kita mau selamat dari musibah, kalau kita mau sembuh dari penyakit maka kita harus kembali kepada pelindung dan penolong kita yaitu Allah SWT.

Allah berfirman,

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (An-Nisa [4]: ayat 79)

Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Nissa [4]: ayat 111)

Jadi, setiap kita mendapat musibah… terimalah dengan ikhlas… dan mulailah introspeksi diri kita…kenapa musibah ini menimpa diri kita? Mungkin selama ini kita tidak sadar telah berbuat salah dan dosa, baik kepada sesama manusia atau kepada Allah SWT.

Semoga dengan sedikit renungan ini bisa membantu kita semua agar bersegera kembali, bersegera meminta ampunan dan perlindungan Allah SWT. Dan jika ada kebenaran yang tertuang dalam renungan ini semata-mata itu hanyalah karena Rahmat Allah SWT dan jika ada kesalahan yang tertuang dalam renungan ini semata-mata dikarenakan kekhilafan kami sebagai manusia yang tidak luput dari salah dan dosa.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Bohong Berbuah Bohong

Sebenarnya, seringkali kita bingung sendiri bahwa kita ini kok sangat mudah sekali berbohong dalam kehidupan kita. Akan tetapi sayangnya kebingungan kita itu masih pada taraf pertanyaan bingung-bingungan pula. Ya…, bingung bohongan juga sebenarnya. Selama ini yang kita namakan kebohongan itu masih terbatas hanya pada perbuatan dan perkataan kita yang berhubungan dengan masalah-masalah muamalah (hubungan kemanusiaan) sehari-hari saja. Misalnya, kita dengan sangat mudah berbohong-bohongan dengan teman, dengan keluarga, dengan istri/suami, dengan anak, dengan orang tua, dengan bawahan, dengan atasan, dengan rakyat, dengan pemimpin, dan sebagainya. Bahkan kita dengan sama mudahnya mampu pula untuk membohongi diri kita sendiri, sehingga kadangkala kita bengong saja dibuatnya. “Kok bisa ya tadi saya membohongi diri saya…”, gumam kita setengah nggak percaya.

Akan tetapi…, kita sangat jarang sekali bisa menyadari bahwa kita ini juga sebenarnya telah terlalu sering berbohong kepada Allah saat kita melakukan ibadah atau sebuah syariat agama. Tatkala kita tidak mampu menjadi saksi (syahid) dan sadar (dzikir) atas ungkapan-ungkapan kita, atas gerakan-gerakan (penghormatan, penyembahan, pemujaan) kita kepada Allah selama kita melakukan ibadah tersebut, maka sebenarnya saat itu kita tengah berbohong. Nggak bisa tidak.

Gimana kita nggak berbohong namanya, misalnya dalam shalat, coba...

Seyogyanya saat takbiratul ihram, sebelum membaca Allahu Akbar, kita seharusnya terlebih dahulu benar-benar bersaksi dan sadar bahwa Allah ternyata memang Maha Besar. Makanya kita sampaikan kesaksian kita itu dengan sadar kepada Allah : "Allahu Akbar…, ooo yaa..., ternyata Engkau memang Maha Besar, Ya Allah". Kan begitu yang namanya kita bersaksi itu...?. Dan Allah pastilah membalas, merespon, dan menjawab kesaksian kita saat itu juga. Karena Allah memang sudah menjaminnya: “Ujiibu da’watad daa’a idza da’aanii…, Aku akan menjawab, merespon, panggilan-pangilan, ungkapan-ungkapan, do’a-doa hamba-Ku apabila dia memanggil-manggil-Ku, memuja-muja-Ku, berdo’a kepada-Ku…”, (Al Baqarah 186).

Akan tetapi…, kalau kita nggak menyaksikan kebesaran Allah, padahal saat itu kita tengah mengatakan Allahu Akbar, itu kan namanya kita saat itu sedang NGELINDUR atau paling tidak tengah BERBOHONG ketika membaca takbiratul ihram itu. Dan…, akibat dari tidak mampunya kita menyaksikan kebesaran Allah saat itu, maka yang seketika itu juga kita akan menyaksikan yang selain Wajah-Nya. Otomatis saja sebenarnya. Begitu selesai mengucapkan Allahu Akbar…, maka seketika itu juga BUBAR semuanya. Kita seperti ditarik-tarik dan didorong-dorong kesana kemari oleh berbagai file fikiran yang ada di dalam memori otak kita. Makanya kita cenderung untuk ingin buru-buru untuk menyelesaikan shalat kita. Capek mengembara kesana kemari soalnya.

Untuk membuktikan bahwa apakah kita ini sedang ngelindur dan berbohong atau tidak saat kita mengucapkan sesuatu pujaan penghormatan kepada Allah itu gampang saja sebenarnya. Mari kita bedah masalah ini sedikit dengan mengambil analogi yang sangat dekat dengan kehidupan kita sendiri, yaitu saat kita berbicara tentang cinta misalnya.

Ketika kita mencintai seseorang, maka untuk mengungkapkan cinta kita kepada orang yang kita cintai itu, apakah itu cukup kita lakukan dengan cara mengucapkan kalimat “I Love You” saja, ataukah seharusnya kita lakukan dengan cara memberikan cinta itu sendiri kepadanya dan lalu ungkapan I Love You itu kemudian mengalir ringan dari mulut kita…?. Bahkan tanpa ungkapan I Love You itu sendiripun, kita dan sang kekasih yang kita cintai itupun dapat pula saling merasakan bahwa SIKAP dan KESADARAN kita memang bersesuaian dengan realitas cinta itu sendiri, walau tanpa kata-kata. Dan yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana RESPON, JAWABAN, dari orang yang kita cintai itu atas ungkapan dan pemberian rasa cinta kita kepadanya. Respon cinta pasti pulalah cinta. Kalau ungkapan cinta kita itu tidak berbalas, atau malah dibalas dengan benci, maka saat itu pula cinta kita disebut sebagai cinta bertepuk sebelah tangan. Nggak enak…!.

Hal ini akan sangat berbeda ketika kita bertemu dengan seseorang atau banyak orang dijalanan, lalu kita mengucapkan “I Love You…, I Love You…, Saya cinta kamu…” kepada mereka. Padahal saat itu rasa cinta kepada orang tersebut tidak ada di dalam dada kita. Maka suasananya persis sama dengan ungkapan seekor burung BEO yang pintar berbicara. Misalnya, “selamat pagi bang…, selamat pagi bang…, selamat pagi bang…”, kata sang burung BEO nyerocos terus walau saat itu hari sedang tengah hari bolong, bahkan pada tengah malam sekalipun. Begitu juga sapaan dia dengan ucapan ‘bang” itu dia tujukan kepada siapapun juga, kepada perempuan, anak-anak, kakek-kakek, nenek-nenek, bahkan binatang sekalipun dia sapa dengan ungkapan “bang” itu.

Ya…, si burung BEO mengucapkan selamat pagi kepada abangnya itu tanpa dia berada dalam kesadaran dan kesaksian tentang suasana pagi hari itu dan abangnya itu sendiri. Inikan ngelindur dan berbohong namanya.

Nah…, saat mulai shalat ketika mengucapkan “Allahu Akbar” saja kita sudah berbohong. Seperti burung BEO itulah. Belum lagi setelah itu. Misalnya, saat saya baca "Inni wajjahtu wajhia..., hanief…", kuhadapkan "wajahku kepada Wajah Dia..., lurus… dst", eee..., kita malah menghadap ke sajadah, kita malah menghadap ke arti bacaan shalat, atau malah kita sedang menghadap ke masalah-masalah lain yang muncul silih berganti dihadapan kita. Lha…, bohong dan ngelindur lagi kita kepada-Nya...!.

Belum lagi saat kita mengucapkan do’a: "iyyaKA... na' budu wa iyyaKA nasta'in…". Saat membacanya kan seharusnya kita langsung tunduk dan tawadhu’ TEPAT ke Wajah-Nya. Bukan kemana-mana lagi. Makanya dalam kalimat itu ada KA…, Engkau…, Mu…!. Ada “barangnya” gitu lho. Artinya sebelum kita mengucapkan do’a itu sudah sepantasnya kita bersaksi dan sadar dulu: “Ooo … ya, ke INI saya harus menyembah, dan ke INI pula saya harus minta pertolongan”.

Lha…, kalau tentang Allah sendiri kita belum tahu, maka saat kita mengucapkan KA… ini, kita harus mengarahkan kesadaran dan kesaksian kita kemana…?. Makanya KA… kita selama ini, saat kita menyembah dan minta dituntun itu kadang-kadang adalah pekerjaan kita, adalah masalah-masalah kita yang sedang in, adalah atribut-atribut kemanusian lainnya, seperti patung, gambar, jabatan, harta benda, dan lain sebagainya. Pikiran kita liar, lari kemana-mana, selama shalat itu kita lakukan. Maka jadilah kita ini bohong lagi kepada Allah...!.

Begitu juga…, saat kita mengucapkan "subhanallah, subhanarabiyal a’la, subhanarabbiyal adhim, dsb". Kita ini kan seharusnya benar-benar telah dan sedang MENYAKSIKAN KEMAHASUCIAN ALLAH, KETINGGIAN ALLAH dulu, lalu barulah setelah itu kita teguhkan kesaksian kita itu dengan ungkapan tasbih diatas dan dengan sikap PENYEMBAHAN pula (rukuk dan sujud). Lha wong kita saat itu belum menyaksikan kemahasucian Allah dan ketinggian Allah, lalu tiba-tiba saja kita bertasbih...!. Lalu menyembah dan memuja siapa kita saat itu…?. Lhaaaa..., kan berbohong dan ngelindur seperti burung BEO lagi kita saat itu namanya. Ya nggak, ya nggak…?. Makanya Allah menegor perilaku kita itu dalam ayat berikut:

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah… (Al Baqarah 165)

Selanjutnya, saat kita menghantarkan do’a: “Rabbana laKAl hamdu…, Wahai Tuhanku…, milik-MU mu segala pujaan ini…”. Dan do’a-do’a: “Rabbigfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, wardzuqni, wahdini, wa’afini, wa’fuanni…, serta do’a-do’a yang lainnya, kita arahkan dan sampaikan kemana MUATAN do’a itu selama ini…?. Kita sampaikan nggak do’a itu kepada yang kita anggap MU itu. Dan MU itu membalasnya nggak muatan do’a kita itu dengan muatan yang lebih dahsyat.

Misalnya, saat kita menyerahkan segala pujaan kepada “MU” itu, maka setelah itu PLONG nggak dada kita ini dari rasa sesak akibat pengaruh rasa sombong untuk ingin dipuja dan puji orang lain. Lalu adakah pula muncul rasa diampuni, rasa dikasihi, rasa ditutupi ke’aiban, rasa rasa diangkat kedudukan, rasa dilimpahi ide-ide untuk mengais rizki, rasa dilimpahi informasi atau pentunjuk, rasa disehatkan, rasa dimaafkan oleh Allah setelah kita mengaturkan do’a kepada “MU” itu…?. Kalau “MU” ini belum pas, maka muatan balasan dari “MU” itu juga nggak akan ada. Kita bertepuk sebelah tangan lagi jadinya.

Yang paling dahsyat adalah saat kita harus mengungkapkan kesaksian kita atas Allah dan Muhammad SAW. "Asyhadualla ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah". Kan seharusnya kita benar-benar menyaksikan Allah dulu baru kita ungkapkan kesaksian kita itu. Begitu juga saat kita harus bersaksi terhadap Rasulullah, bersaksi macam apa yang harus kita lakukan...?. Apakah kita harus membayangkan wajah Rasulullah, penderitaan Rasulullah, atau bagaimana…?. Salah-salah kita bisa sama saja dengan orang yang memuja wajah “XYZ” dalam beribadahnya.

Kalau di sebuah sidang pengadilan, yang namanya bersaksi itu, ya kita haruslah mengetahui persis tentang apa-apa yang akan kita ungkapkan dalam persaksian itu. Lha…, dalam bersyahadah itu, yang seharusnya saat kita bersyahadat itu kesadaran kita langsung tertuju kepada Allah: Ya Allah benar ya Allah hanya Engkau alamat saya menyembah, dan benar ya Allah… Muhammmad SAW adalah Rasulmu, karena apa-apa yang Beliau sampaikan saya buktikan kebenarannya…!, eeee... kesadaran kita yang muncul saat kita bersyahadat itu malah pikiran liar kesana kemari. Bohong dan ngelindur lagi kita dalam bersyahadat itu...!

Dalam mengucapkan salam pun begitu. "Assalamu alaikum, warahmatullahi wabarakatuh...!", itu artinya kan adalah bahwa saat salam itu kita ungkapkan, seharusnya kita menebarkan kepada orang-orang di sekeliling kita tentang keselamatan, rahmat dan barakah dari Allah yang telah kita dapatkan saat kita shalat itu. Lha apanya yang akan ditebarkan wong salam kita itu kebanyakan juga KOSONG SAJA, nggak ada MUATANNYA.

Kan salam itu seharusnya begini: "nih pak, nih dik, nih nak, nih sahabatku ada keselamatan nih, ada rahmat nih, ada barakah nih dari Allah buat mu ('alaikum, 'alaikum, alaikum, buat semua). Ada muatannya gitu lho...!. Kalau nggak ya kita berbohong dan ngelindur lagi itu namanya saat kita mengucapkan salam itu.

Bayangkan…, untuk sebuah perbuatan SHALAT yang kita lakukan dari hari ke hari, waktu ke waktu, isinya nyaris bohong dan ngelindur melulu. Dari sikap ke sikap, bacaan ke bacaan kita nggak ubahnya dengan seekor burung BEO. Lha…, gimana kita bisa menjadi baik saat kita menjalani hidup ini....?.

Jangankan suasana yang susah dalam shalat seperti diatas, untuk hal yang sederhana saja kita belum tentu lebih baik dari seekor burung BEO. Untuk membuktikannya gampang saja kok. Cobalah bandingkan bagaimana suasana yang melanda dada dan kulit kita saat kita menyebut kata-kata berikut ini. Membacanya boleh saja ditempat yang sepi dan sendirian, atau dimanapun yang kita sukai:

“Piring, gelas, piring, gelas, sendok…!”.

Kemudian sebut pulalah:

“Allah…, Allah…, Allah…!.

Kalau tidak ada bedanya sedikitpun suasana DADA dan KULIT kita saat membaca kata-kata diatas, maka bolehlah kita mulai meratapi diri. Karena boleh jadi saat kita membaca itu mungkin nggak ada bedanya dengan membacanya seekor burung BEO.

Lalu kemudian sebut pulalah:

“Jin, iblis, syetan, gendoruwo, roh gentayangan”

Dan makhluk-makhluk sejenis lainnya….

Kalau saat menyebut nama-nama makhluk jin yang digambarkan (dipersepsikan) orang dengan sangat menakutkan itu, dada kita lalu gemetar, kulit kita lalu merinding, ada rasa takut yan menegakkan bulu roma kita…, bahkan ada pula yang sampai keter-keter dan meracau nggak beraturan (yang katanya tengah kesurupan), dan lain-lain sebagainya, maka berarti saat itu bolehlah kita meratapi diri pula. Karena berarti nama jin, syetan dan sebagainya itu lebih menimbulkan kesan mendalam di dada dan di kulit kita dari pada kita nama Allah…!. Astagfirullah hal adhiem…!. Pantas saja kita ini lebih cenderung untuk berbuat berbohong dari pada berbuat jujur. Karena memang kita lebih terkesan dan terpesona dengan jin, syetan dan iblis yang memang dari sononya sukanya berbohong melulu.

Akibatnya pada diri kita…???. Sungguh sangat menakjubkan…!. BOHONG BERBUAH BOHONG.

Buah Itu

Begitu terbiasanya kita berbohong dihadapan Allah saat kita shalat, maka kebiasaan itupun, tanpa kita sadari, lalu terbawa-bawa pula kedalam kehidupan sehari-hari kita. Cobalah kita amati diri kita dan sekeliling kita agak selirik dua lirik. Nggak usah jauh-jauhlah, ditempat bekerja kita misalnya. Betapa sering dan bersemangatnya kita selama ini membuat rencana-rencana yang konon kabarnya adalah untuk kemajuan perusahaan tempat kita bekerja, dan tentu saja untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama pula. Akan tetapi sayangnya lebih banyak pula rencana-rencana itu adalah rencana bohong-bohongan belaka.

Mari kita lihat bagaimana proses kita merencana itu selama ini melalui rapat-rapat yang intensitasnya cukup tinggi:

* Sebelum menghadiri rapat, kita sudah mulai memuat pulau-pulau mulai dari yang kecil sampai ke yang besar kedalam fikiran kita masing-masing. “Itu kan kerjaan si anu…. Itu kan bukan tanggungjawab saya…. Yang ini barulah bagian saya. Orang lain nggak boleh mengutak-utik bagian saya ini. Yang lain boleh jelek asal yang bagian saya bisa baik”.

* Giliran untuk melaksanakannya barulah kelihatan lagi ngelesnya: “kita terlebih dulu harus membuat detail rencana ini dengan sangat terperinci dengan melibatkan berbagai pihak lain yang berkompeten, dan berbagai alasan lainnya”.

* Akhirnya karena otak kita masing-masing masih berpulau-pulau seperti diatas, ditambah lagi saking rinci dan hebatnya detail rencana yang kita buat, malah jadinya rencana itu nggak bisa dilaksanakan sama sekali. Para pimpinan…, otaknya dibatasi oleh pulau-pulau yang berada diotaknya masing-masing. Dikiranya kotak atau posisinya sebagai pimpinan itu adalah miliknya sendiri. Begitu pula para pasukan dibawah pun lebih banyak berada pada pulau-pulau pikirannya sendiri dalam pekerjaannya sehari-hari. Padahal Indonesia ini walau dikatakan sebagai sebuah negara dengan seribu pulau, namun pulau-pulau itu tetap masih bisa disatukan dengan sebuah nama, INDONESIA.

* Padahal kalau kita berfikir secara sederhana, tidak ada yang tidak bisa dilaksanakan. Karena masalah-masalah kita ini hanyalah masalah yang berulang dari dulu-dulu walau dengan kualitas yang berbeda. Syaratnya hanyalah satu, yaitu temukanlah “sesuatu” yang bisa menyatukan pulau-pulau yang ada disetiap fikiran kita. Dan sesuatu itulah yang kita binding, kita anchoring, kita sandari saat kita menjalankan fungsi kita masing-masing.

Begitu juga di tingkat kota, propinsi, dan bahkan negara, nyaris saja rencana-rencana yang kita buat adalah rencana-rencanaan, rencana bohongan, rapat bohongan, pemeriksaan bohongan, tindakan bohongan, pelaksanaan bohongan.

Subhanallah…, ternyata bohongnya kita dihadapan Allah tadi, ee... ndak tahunya Allah malah benar-benar balik mendorong kita untuk berbuat bohong-bohong berikutnya. Ya seperti kita sekarang inilah. Bangsa kita ini saat ini nampaknya memang tengah dilanda oleh gelombang kebohongan massal.

Masih Ada Harapan…!

Untuk keluar dari lingkaran kebohongan demi kebohongan diatas, masih adakah jalan yang terbentang dihadapan kita…?. Jawabannya…, ADA…!. Dan caranya itupun adalah dengan cara yang sangat sederhana, yaitu jangan BOHONG dihadapan ALLAH. Artinya:

* Janganlah mengaku bahwa Allah Maha Besar (Allahu Akbar), kalau kita belum menyaksikan kemahabesaran Allah.

* Janganlah menyatakan IyyaKA, kalau kita belum sadar penuh kepada MU yang kita tuju.

* Janganlah memuji bahwa Allah Maha Suci (subhanallah), kalau belum menyaksikan kemahasucian Allah.

* Janganlah kita bersyahadat akan Allah, kalau kita belum bersaksi akan ketunggalan Allah, keesaan Allah, dan yang selain Allah adalah fana, tiada. Dan janganlah kita bersyahadat akan kerasulan Muhammad, kalau kita belum menikmati kebenaran ajaran-ajaran Beliau.

* Janganlah kita mengucapkan salam kepada orang lain, kalau muatan salam, kebahagian, kesejahteraan itu belum ada pada diri kita.

Nah…, harapan untuk menjadi TIDAK BOHONG lagi itu sangat terbuka lebar ketika kita bisa menjadi PENYAKSI (SYAHID) akan: kemahabesaran Allah, kemahasucian Allah, kemahaesaan Allah, dan kita menyaksikan pula respon Allah atas apa-apa yang kita keluhkan kepada-Nya. Inikan IHSAN saja sebenarnya.

Karena nggak mungkinlah orang yang IHSAN, yang menyaksikan dan yang sadar akan ALLAH mau untuk berbohong, berbohong, dan berbohong lagi …!.

Nah temukanlah posisi IHSAN tersebut…!.

MENSIKAPI TAKDIR ALLAH SWT

Suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah permasalahan hidup, dimanapun, kapanpun, apapun dan dengan siapapun, semuanya adalah berpotensi masalah. Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya.

Jadi masalah yang sesungguhnya bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi persoalan tersebut.

Setidaknya ada 5 kiat dalam menghadapi permasalahan kehidupun ini, khususnya untuk hal-hal yang sudah terjadi (takdir), yaitu:

1. Siap

Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keinginan. Kita memang diharuskan memiliki keinginan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah SWT berikan kepada kita.

Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar-sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.

Ketahuilah kita punya rencana, dan Allah SWT pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah SWT, karena Allahlah perencana yang terbaik.

Yang lebih lucu serta menarik dalam mensikapi kejadian, yaitu kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian namun setelah waktu berlalu ternyata “kejadian” tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya.

Dikisahkan ada seorang mahasiswa fakultas teknik Universitas Gajah Mada, perguruan tinggi ternama di Yogjakarta. Dia adalah satu-satunya anak tunggal yang diharapkan kedua orang tuanya bisa menjadi seorang insinyur yang nantinya bekerja di sebuah perusahaan yang bisa menghidupi keluarganya. Tapi apa yang terjadi…? Sang mahasiswa tadi memilih keluar dari UGM dan menentukan pilihannya sendiri yang sudah dipikirkan matang-matang untuk mendalami agama Islam dengan jalan mondok di beberapa Pondok Pesantren yang ada di Jawa ini.

Subhanallah, sebelumnya… keluar dari UGM dianggap sebagai musibah besar, tapi apa yang terjadi kemudian? Setelah beberapa tahun mondok…sekarang dia sudah menjadi seorang juru dakwah yang cukup disegani didaerah Jogjakarta dan sekitarnya. Kita tidak tahu apa dibalik rencana Allah SWT terhadap diri kita dan keluarga kita.

Oleh karena itu bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian yang terjadi…adalah yang terbaik atas kehendak & ijin Allah SWT. Dan siapkan mental kita sebagai hamba Allah untuk menerima apapun yang akan terjadi.

Allah berfirman,

“Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi Allah itu lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal dalam pandangan Allah itu buruk bagimu” (Al-Baqarah [2]: ayat 216)

Sebagai contoh, kalau mau mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di tempat yang dicita-citakan, namun siapkan pula diri ini andai kata Allah Yang Maha Tahu bakat, karakter dan kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun tidak sesuai dengan rencana sebelumnya. Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan, namun hati harus siap… andai kata Allah berkehendak lain, tidak mengijinkan karena Allah tahu tempat jalan rejeki yang lebih berkah. Demikianlah dalam segala urusan apapun yang kita hadapi, hasilnya semuanya tergantung Allah SWT.

2. Ridha

Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridha/ikhlas akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita ridha & ikhlas menerimanya.

Misalnya, kita menyuruh anak perempuan kita yang masih SMP untuk memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain, seperti mencari bawang goreng, ayam, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita senang, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.

Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu kecil nyasar entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita harus ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja, ridha atau rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apa pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah. Kondisi hati yang tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal, dan bermutu.

Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu dan saat ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang yang malang selalu saja menyesali mengapa dahulu tergesa-gesa menjual tanah. Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih beruntung. Itulah contoh orang yang tidak pernah ridha atas apa-apa yang sudah terjadi.

Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup kita yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah karena semua itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperparah masalah. Dengan demikian, hati harus ridha menerima apa pun kenyataan yang terjadi sambil ikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridhai Allah SWT.

3. Optimis

Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.

Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil, yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerjapun gajinya sudah pas-pasan. Ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum lunas dan utang yang belum terbayar.

Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT yang Mahakaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal, pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani yang tidak mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.

Maka didalam menghadapi persoalan apapun jangan hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah SWT. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos? Yakinlah bahwa Allah yang Maha Tahu segalanya pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita. Allah berfirman,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” (Al-Insyirah [94]: ayat 5-6).

Sampai dua kali Allah SWT menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah Neraka. Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus memperoleh kelapangan dan kemudahan karena dunia bukanlah Surga. Keduanya, kesulitan dan kemudahan dipergilirkan dengan keadilan Allah SWT.

4. Entrospeksi Diri

Ketahuilah, hidup ini bagaikan gema di pegunungan: apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan.

Allah berfirman,

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (Al-Zalzalah [99]: ayat 7 & 8)

Andaikata ada batu yang menghantam kening kita, selain hati harus ridha, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala ini begitu kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai bersujud. Allah tidak menciptakan sesuatu kejadian dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya. Dompet hilang? Mengapa dari satu bus, hanya kita yang ditakdirkan kehilangan dompet? Jangan sibuk menyalahkan pencopet karena memang sudah jelas ia salah dan memang begitu pekerjaannya. Coba renungkankah:

  • Bisa jadi kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan Allah Maha tahu jumlah zakat dan sedekah yang harus dikeluarkan, dan ternyata masih juga belum kita zakati. Tidak ada kesulitan bagi-Nya untuk mengambil apapun yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.
  • Bisa jadi harta yang kita miliki ini kita genggam erat-erat, padahal didalam harta kita … kita diberi amanah oleh Allah SWT untuk memberikan kepada fakir miskin minimal 2,5 %, hal ini belum kita laksanakan. Maka tidak ada kesulitan bagi Allah untuk mengeluarkan harta kita secara paksa… bisa melalui cobaan sakit yang menghabiskan ratusan juta rupiah, cobaan mobil yang dicuri orang, cobaan ditipu orang puluhan juta dengan iming-iming hadiah mobil, dll.

Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri dan dapat mengundang pertolongan Allah SWT.

5. Hanya Bergantung kepada Allah.

Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh satu lembar daunpun tanpa izin-Nya. Begitupun sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah akan datang rejeki satu senpun tanpa izin-Nya. Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan.

Maka, sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selain Allah SWT. Tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah Yang Maha Agung.

Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah, tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah SWT dalam menghadapinya. Tanpa pertolongan-Nya, kita akan terus berkelana dalam kesulitan, dari satu persoalan ke persoalan lain.

Insya Allah, masalah yang ada dalam kehidupan ini, jika disikapi dengan hati yang ridha & ikhlas, akan menjadikan hidup kita ini jauh lebih bermutu, mulia, bermakna dan terhormat baik di dunia maupun diakhirat kelak.

Mohon maaf jika ada kekurangan dalam penyajian bahan renungan ini, semoga ada manfaatnya.

Sabtu, 24 Juli 2010

PUASA TAPI TIDAK SHOLAT

Hukum Orang Yang Puasa Tapi Tidak Shalat

Tanya :

Apa hukum orang yang berpuasa tapi meninggalkan shalat? Apakah puasanya sah?

Jawab :

Yang benar, bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hukumnya kufur akbar. Puasa dan ibadah-ibadah lainnya tidak sah sampai ia bertaubat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Hal ini berdasarkan firman-Nya,

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)

Dan berdasarkan ayat-ayat serta hadtis-hadits lain yang semakna. Sebagian ulama menyatakan bahwa hal itu tidak menyebabkannya kafir dan puasa serta ibadah-ibadah lainnya tidak batal jika ia masih mengakui kewajiban-kewajiban tersebut, ia hanya termasuk orang-orang yang meninggalkan shalat karena malas atau meremehkan.

Yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu kafirnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja walaupun mengakui kewa-jibannya. Hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya adalah sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah Radhiallaahu anhu.

dan sabda beliau,

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barang-siapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan keempat penyusun kitab sunan dengan isnad shahih dari hadits Buraidah bin Al-Hushain Al-Aslami Radhiallaahu anhu.)

Al-’Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullaah telah mengupas tuntas masalah ini dalam tulisan tersendiri yang berjudul “Shalat dan orang yang meninggalkannya”, risalah beliau ini sangat bermanfaat, sangat baik untuk merujuk dan mengambil manfaatnya.

HATI-HATI MEMBICARAKAN ORANG LAIN

HATI-HATI MEMBICARAKAN ORANG LAIN

Membicarakan aib orang lain atau ghibah telah Allah haramkan secara jelas dan tegas di dalam kitab-Nya dan melalui lisan rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. al-Hujurat:12)

Penjelasan tentang hakikat ghibah telah disebutkan di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yaitu,

“Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak suka (untuk diungkapkan).” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah mengharamkan kehormatan seorang mukmin dan mengaitkannya dengan hari Arafah, bulan haram, dan tanah haram. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negri kalian ini. Ingat! Bukankah aku telah menyampaikan?” (HR Muslim).

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan dengan sangat tegas bahwa membicarakan aib dan kehormatan seorang mukmin itu lebih parah dibandingkan dengan seseorang yang menikahi ibunya sendiri.
Diriwayatkan dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Riba itu mempunyai tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti seseorang yang menikahi ibunya. Dan riba yang paling besar yakni seseorang yang berlama-lama membicarakan kehormatan saudaranya.” (Silsilah ash-Shahihah no. 1871)

Di dalam sebuah potongan hadist, riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Siapa yang berkata tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak terjadi (tidak dia perbuat), maka Allah subhanahu wata’ala akan mengurungnya di dalam lumpur keringat ahli neraka, sehingga dia menarik diri dari ucapannya (melakukan sesuatu yang dapat membebaskannya).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim, disetujui oleh adz-Dzahabi, lihat Silsilah ash-Shahihah no. 437)

Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Ghanam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

“Sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang jika dilihat (menjadi perhatian) disebutlah nama Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang berjalan dengan mengadu domba, memecah belah antara orang-orang yang saling cinta, dan senang untuk membuat susah orang-orang yang baik.” (HR. Ahmad 4/227, periksa juga kitab “Hashaid al-Alsun” hal. 68)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Wahai sekalian orang yang telah menyatakan Islam dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian semua menyakiti sesama muslim, janganlah kalian membuka aib mereka, dan janganlah kalian semua mencari-cari (mengintai) kelemahan mereka. Karena siapa saja yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengintai kekurangannya, dan siapa yang diintai oleh Allah kekurangannya maka pasti Allah ungkapkan, meskipun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/200)

Para salaf adalah orang yang sangat menjauhi ghibah dan takut jika terjerumus melakukan hal itu. Di antaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dia berkata, “Aku mendengar Abu ‘Ashim berkata, “Semenjak aku ketahui bahwa ghibah adalah haram, maka aku tidak berani menggunjing orang sama sekali.” (at-Tarikh al-Kabir (4/336)

Al-Imam al-Bukhari mengatakan, “Aku berharap untuk bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala dan Dia tidak menghisab saya sebagai seorang yang telah berbuat ghibah terhadap orang lain.”

Imam Adz-Dzahabi berkomentar, “Benarlah apa yang beliau katakan, siapa yang melihat ucapan beliau di dalam jarh dan ta’dil (menyatakan cacat dan jujurnya seorang perawi) maka akan tahu kehati-hatian beliau di dalam membicarakan orang lain, dan sikap inshaf (obyektif) beliau di dalam mendhaifkan/melemahkan seseorang.

Lebih lanjut beliau (adz-Dzahabi) mengatakan, “Apabila aku (Imam al-Bukhari) berkata si Fulan dalam haditsnya ada catatan, dan dia diduga seorang yang lemah hafalannya, maka inilah yang dimaksudkan dengan ucapan beliau “Semoga Allah subhanahu wata’ala tidak menghisab saya sebagai orang yang melakukan ghibah terhadap orang lain.” Dan ini merupakan salah satu dari puncak sikap wara’. (Siyar A’lam an -Nubala’ 12/439)

Beliau juga mengatakan, “Aku tidak menggunjing seseorang sama sekali semenjak aku ketahui bahwa ghibah itu berbahaya bagi pelakunya.” (Siyar a’lam an-Nubala’ 12/441)

Para salaf apabila terlanjur menggunjing orang lain, maka mereka langsung melakukan introspeksi diri. Ibnu Wahab pernah berkata,

“Aku bernadzar apabila suatu ketika menggunjing seseorang maka aku akan berpuasa satu hari. Aku pun berusaha keras untuk menahan diri, tetapi suatu ketika aku menggunjing, maka aku pun berpuasa. Maka aku berniat apabila menggunjing seseorang, aku akan bersedekah dengan satu dirham dan karena sayang terhadap dirham, maka aku pun meninggalkan ghibah.”

Berkata imam adz-Dzahabi, “Demikianlah kondisi para ulama, dan itu merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat.” (Siyar: 9/228)

Bahkan seorang yang melakukan ghibah pada hakikatnya sedang memberikan kebaikannya kepada orang lain yang dia gunjing. Bahkan Abdur Rahman bin Mahdi berkata, “Andaikan aku tidak benci karena bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, maka tentu aku berharap tidak ada seorang pun di Mesir, ini kecuali aku menggunjingnya, yakni karena dengan itu seseorang akan mendapatkan kebaikan di dalam catatan amalnya, padahal dia tidak melakukan sesuatu.” (Siyar: 9/195)

Maka para aktivis dakwah di masa ini yang melakukan ghibah atau membicarakan aib saudaranya sesama muslim dengan alasan untuk meluruskan kesalahan dan demi kebaikan, alangkah baiknya sebelum membicarakan orang lain merenung kan beberapa masalah berikut:

Pertama; Apakah yang dia lakukan itu adalah ikhlas dan merupakan nasihat untuk Allah subhanahu wata’ala, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin? Ataukah merupakan dorongan hawa nafsu baik tersembunyi atau terang-terangan? Atukah itu merupakan hasad dan kebencian terhadap orang yang dia gunjing?

Memperjelas apa latar belakang yang mendorong untuk membicarakan orang lain sangatlah penting. Sebab berapa banyak orang yang terjerumus ke dalam ghibah dan menggunjing orang lain karena dorongan nafsu tercela sebagaimana tersebut di atas. Lalu dia menyangka bahwa yang mendorong dirinya untuk menggunjing adalah karena menyampaikan nasehat dan menginginkan kebaikan.

Ini merupakan ketergelinciran jiwa yang sangat pelik, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, kecuali setelah merenung dan berpikir mendalam penuh rasa ikhlas dan murni karena Allah subhanahu wata’ala.

Ke dua; Harus dilihat dulu bentuk masalahnya ketika membicarakan aib seseorang, apakah merupakan hal-hal yang di situ memang dibolehkan untuk ghibah ataukah tidak?

Ke tiga; Renungkan berkali-kali sebelum mengeluarkan kata-kata untuk membicarakan orang lain; Apa jawaban yang saya sampaikan nanti di hadapan Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat jika Dia bertanya, “Wahai hamba-Ku si Fulan, mengapa engkau membicarakan si Fulan dengan ini dan ini?”
Hendaknya selalu ingat bahwa Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,

“Dan ketahuilah bahwasannya Allah mengetahi apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 235)

Dan Ibnu Daqiq al-Ied juga telah berkata, “Kehormatan manusia merupakan salah satu jurang dari jurang jurang neraka yang para ahli hadits dan ahli hukum diam apabila telah berhadapan dengannya”. (Thabaqat asy Syafi’iyyah al Kubra 2/18). Wallahu a’lam.

Sumber:
“Manhaj Ahlussunnah fi an-Naqdi wal Hukmi ‘alal Akharin, hal 17-20, Hisyam bin Ismail ash-Shiini. Dari buletin an-Nur.

WARISAN NABI YANG TERLUPAKAN

Anda pernah sakit gigi? Kemana Anda pergi berobat? tentunya dokter gigi bukan? Kenapa Anda tidak pergi ke montir mobil atau tukang cukur tatkala Anda sakit gigi? … Ya’, tepat sekali, karena dokter gigilah yang mengetahui masalah Anda, bukan yang lainnya. Itulah pentingnya ilmu, dan ilmu itulah yang membedakan seseorang dengan yang lainnya.

Ilmu Yang diturunkan Allah Subhanahu wata’ala

Di antara nama-nama Allah Subhanahu wata’ala yang husna (baik, bagus) adalah al ‘Aliim, yang artinya Maha Mengetahui. Allah Subhanahu wata’ala adalah Dzat yang Maha Mengetahui, baik perkara-perkara yang lahir maupun yang batin, baik yang kecil, ataupun yang besar. Dan sifat ilmu Allah Subhanahu wata’ala merupakan ilmu yang sempurna, tidak didahului oleh sifat kebodohan dan tidak pula dihinggapi sifat lupa. Sebagaimana firman-Nya,

“Pengetahuan (ilmu) tentang hal itu, ada pada Tuhanku, di dalam sebuah kitab Tuhanku yang tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Thooha: 52) (Al Qowaa’idul Mutslaa, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin)

Allah Subhanahu wata’ala Ta’ala menurunkan dua macam ilmu kepada manusia. Yaitu, ilmu duniawi dan ilmu syar’i. Adapun ilmu duniawi, hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah, yakni jika sudah ada orang yang mempelajarinya, gugurlah kewajiban orang yang lainnya. Dan ilmu duniawi ini bisa sebagai sarana untuk tujuan kebaikan atau untuk kejahatan, sehingga hukumnya pun sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya.

Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah ilmu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rosululloh Muhammad shollalahu aihi wa sallam yang berupa keterangan-keterangan dan petunjuk yang terkait dengan keselamatan dan kebaikan seorang hamba, yang mana pemilik ilmu inilah yang mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wata’ala. (Kitabul ‘Ilmi, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin).

Sebagaimana sabda Rosululloh shollAllah Subhanahu wata’alau’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dirinya dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu wata’ala, maka akan Allah Subhanahu wata’ala pahamkan dia tentang ilmu agama.” HR. Al Bukhori).

Firman Allah Subhanahu wata’ala, “…Allah Subhanahu wata’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”(Al Mujaadilah: 11).

Hukum mempelajarinya adalah wajib bagi setiap muslim, berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Menuntut ilmu (syar’i) adalah kewajiban bagi setiap muslim (baik laki-laki ataupun wanita).” (HR. Ibnu Majah, Abu Ya’la dan Ath Thobroni).

Ilmu syar’i Warisan para Nabi

Dan ilmu syar’i inilah yang menjadi warisan para Nabi. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham (harta benda), akan tetapi hanyalah mereka mewariskan ilmu syar’i, maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia mengambil bagian (warisan) yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Ilmu ini merupakan ilmu yang terlupakan dari perhatian kaum muslimin. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akherat adalah lalai.”(Ar Ruum: 7).

yakni kebanyakan manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali tentang ilmu dunia, dan yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akherat mereka (Tafsirul Quranil Azhim, Al Imam Ibnu Katsir).

Perlu diketahui, bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala membenci setiap orang yang pandai dalam masalah-masalah dunia namun bodoh tentang perkara akherat, Rosululloh bersabda,

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala membenci setiap orang yang ‘alim (pandai) dalam perkara duniawi, namun jahil terhadap perkara akherat.” (Shahihul Jami’: 1875).

Menuntut Ilmu Syar’i (Ilmu Agama) = Jihad

Tatkala disebut kata jihad, yang tergambar dalam pikiran adalah perang dengan berbagai kesulitannya. Perlu diketahui, bahwa syariat jihad bertujuan agar agama Islam ini tegak di muka bumi. Dan Islam tidaklah tegak tanpa adanya jihad. Namun, perlu digaris bawahi, bahwasanya jihad ada dua bentuk, yang pertama adalah jihad dengan ilmu dan burhan (keterangan), dan yang kedua adalah jihad dengan perang dan pedang. Jihad yang pertama lebih didahulukan dibandingkan yang kedua, sebagaimana Rosululloh tidak akan memerangi suatu kaum sebelum dakwah sampai kepada mereka (Kitabul ‘Ilmi, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin).

Abu Darda, salah seorang sahabat Rosululloh, berkata, “Tidaklah seseorang pergi siang hari ke Masjid untuk kebaikan yang akan dipelajarinya atau diajarkannya, melainkan akan ditulis untuknya pahala sebagaimana pahala mujahid. Ia tidak pulang melainkan dalam keadaan mendapatkan rampasan perang.”

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu (agama), ia berada di jalan Allah Subhanahu wata’ala hingga ia pulang” (HR. At Tirmidzi dan At Thobroni).

Begitu pula Muadz bin Jabal, sahabat Rosululloh, berkata, “Hendaklah kalian menuntut ilmu (agama), karena mempelajarinya dengan ikhlash membuat orang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, mengkajinya adalah ibadah, dan mendiskusikannya adalah tasbih, dan pergi mencarinya adalah jihad” (Al ‘Ilmu, Al Imam Ibnul Qoyyim)

Ilmu Dulu, Baru Amal

Allah Subhanahu wata’ala Ta’ala berfirman, “…barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al Kahfi: 110).

Yakni siapa saja yang mengharap pahala dan balasan yang baik dari-Nya, hendaknya ia mengerjakan amal yang sholeh, yakni amal yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh, dan tidak mempersekutukan Allah Subhanahu wata’ala dalam beribadah, yakni hanya mengharap pahala dan wajah Allah Subhanahu wata’ala semata dari amal ibadahnya. Di dalam ayat ini, terdapat dua rukun amal sebagai syarat diterimanya amal tersebut oleh Allah Subhanahu wata’ala, amal tersebut haruslah: (1) ikhlash ditujukan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan (2) sesuai dengan tuntunan dari Rosululloh (Tafsirul Quranil ‘Azhim, Al Imam Ibnu Katsir).

Maka dari itu, seseorang yang hendak mengerjakan amal ibadah, selain berusaha mengikhlashkan amal ibadahnya hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, juga harus mengetahui (mengilmui) apakah amal ibadahnya tersebut diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala atau dituntunkan oleh Rosululloh. Karena tidaklah setiap amal perbuatan yang dimaksudkan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala mesti diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan berasal dari ajaran kami, maka amal tersebut tertolak”(HR. Muslim).

Dengan begitu, ilmu lebih didahulukan daripada amal perbuatan.

Begitu pula dengan firman Allah Subhanahu wata’ala, “Ketahuilah (ilmuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali hanya Allah Subhanahu wata’ala, dan mohonlah ampunan atas dosamu…” (Muhammad: 19).

Al Imam Al Bukhori menggunakan ayat ini sebagai dalil mengenai kewajiban memulai dengan ilmu sebelum berbicara dan beramal. Ini merupakan dalil dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwa manusia mengetahui terlebih dahulu, kemudian baru beramal. Sebab suatu ucapan maupun amalan tidak bisa diterima kecuali bila dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah, padahal tidak mungkin seseorang mengetahui bahwa amalnya sesuai dengan ketentuan syariah kecuali dengan ilmu (Syaroh Tsalaatsatul Ushul, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin)

Bersikaplah Adil wahai Sahabat ……!!!

Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwa setelah meninggal, manusia akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatannya sewaktu hidup di dunia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Allah Subhanahu wata’ala tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, namun merekalah yang akan ditanya…” (Al Anbiya’: 21).

Kemudian manusia akan menempati tempatnya di akherat. Jika tempatnya di surga, di surgalah dia. Namun jika tempatnya di neraka, di nerakalah dia. Dan perlu diingat, bahwasanya kehidupan akherat itu kekal.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

“Dan kehidupan akherat adalah lebih baik dan lebih kekal.”(Al A’laa: 17).

Sebagaimana manusia tidak suka jika ada orang yang tidak adil kepadanya, maka hendaknya dia pun berbuat adil kepada Allah Subhanahu wata’ala. Jadi, seseorang tidaklah boleh hanya mementingkan kehidupan dunia tanpa memikirkan kehidupan akherat. Sehingga, kalau dia mampu meluangkan kesempatan belajar ilmu duniawi, tentunya dia pun harus bisa meluangkan kesempatan belajar ilmu syar’i.

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa…”(Al Maidah: 8)

Bagaimana mungkin kita lebih sibuk mengurusi perkara dunia yang sementara sampai-sampai kita lalai terhadap akhirat yang itu kekal selama-lamanya. Bahkan dengan ilmu syar’i itulah seorang hamba bisa mencapai kebahagiaan dunia dan akhiratnya, dengan ilmu syar’ilah dia bisa mengetahui apakah suatu amalan diajarkan atau tidak oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya. Bukankah Nabi telah bersabda,

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan berasal dari ajaran kami, maka amal tersebut tertolak.”(HR. Muslim).

YANG WAJIB DIPELAJARI OLEH SETIAP MUSLIM

YANG WAJIB DIPELAJARI OLEH SETIAP MUSLIM

Ketahuilah, di antara ciri-ciri yang menonjol dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah itu adalah mereka sangat mengagungkan dan memuliakan ilmu! Ya, kesibukan dan kepeduliannya terhadap ilmu sangatlah besar, khususnya ilmu tentang syari'at Allah dan Rasul-Nya (ilmu agama). Dan ini merupakan perkara yang wajib diketahui oleh setiap muslim, sebelum ia mengetahui dan mempelajari selain agama-Nya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah menjelaskan dalam kitab beliau Al-Ushulu Ats-Tsalatsah, bahwa ilmu utama yang wajib diketahui dan dipelajari oleh setiap muslim itu hanyalah tiga perkara, yaitu Mengenal Allah (Ma'rifatullah), Mengenal Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam (Ma'rifatun Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam), Mengenal Agama Islam ini dengan berdasarkan dalil-dalil yang shohih, jelas, dan pasti (Ma'rifatud Diinil Islam bil adillati).

Yang dimaksud mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala itu adalah Anda mengenal-Nya dengan hati Anda, yang berkonsekuensi menerima apa saja yang disyari'atkan-Nya, patuh dan tunduk kepada-Nya dan menentukan segala keputusan dengan syari'at yang dibawa oleh Rasul-Nya shollallahu 'alaihi wa sallam
Seorang hamba itu mengenal Allah Azza wa Jalla dengan cara merenungkan ayat-ayat syar'iyyah yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, juga dengan cara merenungkan ayat-ayat kauniyyah (tanda-tanda kebesaran alam semesta ini), yakni melalui adanya segala jenis makhluk-Nya yang ada di alam semesta ini. Sebab setiap kali ia merenungkan ayat-ayat-Nya tersebut, maka akan bertambah-tambah pengenalannya terhadap Al-Kholiq (Sang Pencipta) dan Dzat yang disembahnya itu.

Tentang ini Allah Azza wa Jalla berfirman: "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat [51]: 20-21).

Kemudian yang dimaksud dengan mengenal Rasul-Nya Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam adalah mengenal beliau shollallahu 'alaihi wa sallam secara benar, yang berkonsekuensi menerima apa saja yang dibawa oleh beliau berupa petunjuk dan agama yang benar, mempercayai dan meyakini kebenaran apa saja yang diberitakan oleh beliau, mematuhi apa yang diperintahkannya, menjauhi apa yang dilarangnya, memutuskan perkara berdasarkan syari'atnya dan ridho dengan segala keputusannya.

Tentang hal ini Allah Azza wa Jalla berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu (Wahai Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang meka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan merka menerima (tunduk) dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa [4]: 65).

Ayat-ayat yang menerangkan tentang hal ini sangatlah banyak, silahkan Anda memperhatikannya (lihat juga dalam QS. An-Nisa [4]: 59, An-Nur [24]: 51 dan lain-lain).

Hingga akhirnya Allah Ta'ala berfirman:

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang sangat pedih." (QS. An-Nur [24]: 63).

Menjelaskan tentang ayat tersebut, Imam Ahmad bin Hambal menyatakan: "Tahukah kalian fitnah apa yang dimaksud dalam ayat ini? Fitnah yang dimaksud adalah kesyirikan! Mungkin jika ia menolak sebagian sabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, maka akan terbersit dalam hatinya sesuatu (keinginan) untuk menyimpang, karena itulah ia akan binasa!"

Lalu yang terakhir, yang dimaksud dengan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya adalah memahami agama Islam ini sebagai agama dengan dalil-dalilnya yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Hal ini mengandung konsekuensi bagi setiap muslim untuk tunduk kepada Allah dengan memurnikan ketauhidan, patuh kepada-Nya dengan cara melaksanakan berbagai bentuk amal ketaatan, dan juga membebaskan diri (berlepas diri) dari segala bentuk kesyirikan dan para pelakunya. Tiga unsur inilah yang terkandung dalam agama Islam ini.

Pembaca yang budiman, inilah tiga ilmu utama yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, karena hal ini menyangkut agama Islam secara keseluruhan. Bila seseorang itu buta dan tidak mengenal tiga perkara ini secara benar, niscaya ia akan celaka dan tersesat di dunia, sedangkan di akhirat ia pun akan menderita dan menyesal selama-lamanya. Wa na'udzubillahi min dzalik.

Wallahu a'lamu bish showwab.

(Maroji': Kitab Syarh Tsalatsatul Ushul, hal 19-21, Karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah).

BERPUASA DAN BERHARI RAYA BERSAMA PENGUASA

BERPUASA & BERHARI RAYA BERSAMA PENGUASA

Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu diantaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.

Namun syi’ar kebersamaan itu kian hari semakin pudar, manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yang berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Keputusan itu terkadang atas nama ormas, terkadang atas nama parpol, dan terkadang pula atas nama pribadi. Masing-masing mengklaim, keputusannya yang paling benar. Tak pelak, shaum Ramadhan yang merupakan syi’ar kebersamaan itu (kerap kali) diawali dan diakhiri dengan fenomena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Tentunya, ini merupakan fenomena menyedihkan bagi siapa pun yang mengidamkan persatuan umat.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin anda akan berkata: “Itu karena adanya perbedaan pendapat diantara elemen umat Islam, apakah awal masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal (melihat hilal) ataukah dengan ilmu hisab?”. Bisa juga anda mengatakan: “Karena adanya perbedaan pendapat, apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ (tempat keluarnya hilal) ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri-sendiri?”

Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu, lepas adanya realita perbedaan pendapat di atas, utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam. Prinsip itu adalah memuliakan dan menaati penguasa (pemerintah) umat Islam dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).

Mungkin timbul tanda tanya: “Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dengan pelaksanaan shaum Ramadhan?”

Layak dicatat, hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:

1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam, dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.
2. Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui sekian proses, dari pengerahan tim ru‘yatul hilal di sejumlah titik di negerinya hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.

3. Realita juga membuktikan, dengan menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya ‘Idul Fithri, benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya, ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu, menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)

Mungkin ada yang bertanya, “Adakah untaian fatwa dari para ulama seputar permasalahan ini?” Maka jawabnya ada, sebagaimana berikut ini:

Fatwa Para Ulama Seputar Shaum Ramadhan Bersama Penguasa

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)

Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini [1] dengan ucapan (mereka): ‘Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)

Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, berbuka puasa/Iedul Fithri dan Iedul Adha, -pen.) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiyah ‘ala Ibni Majah, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443).

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani [2] berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398).

Beliau rahimahumullah juga berkata: “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang diantara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu 'anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan diantara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu 'anhu shalat di Mina 4 rakaat (Zhuhur, ‘Ashar, dan Isya’ -pen). Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat (di Mina/hari-hari haji, -pen.) bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”

Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu 'anhu.

Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama Al-Jama’ah.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 444-445)

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas engkau dengan kebaikan.”

Beliau menjawab: “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.” Wabillahit taufiq. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan? Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”

Beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

        
“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” (Asy-Syura: 13)

“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 105)

Sehingga umat Islam wajib untuk menjadi umat yang satu dan tidak berpecah-belah dalam beragama. Hendaknya waktu shaum dan berbuka mereka satu, dengan mengikuti keputusan lembaga/departemen yang menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai-berai (dalam masalah ini), walaupun harus lebih tertinggal dari shaum kerajaan Saudi Arabia atau negeri Islam lainnya.” (Fatawa Fi Ahkamish Shiyam, hal. 51-52).

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta`: “…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.”

Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)

Demikianlah beberapa fatwa para ulama terdahulu dan masa kini seputar kewajiban bershaum bersama penguasa dan mayoritas umat Islam di negerinya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan ibrah bagi orang-orang yang mendambakan persatuan umat Islam.

Mungkin masih ada yang mengatakan bahwasanya kewajiban menaati penguasa dalam perkara semacam ini hanya berlaku untuk seorang penguasa yang adil. Adapun bila penguasanya dzalim atau seorang koruptor, tidak wajib taat kepadanya walaupun dalam perkara-perkara kebaikan dan bukan kemaksiatan, termasuk dalam hal penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini.

Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini, jika umat dihadapkan pada polemik atau perbedaan pendapat, prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam’ haruslah senantiasa dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kalam-Nya nan suci:

“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)

Para pembaca yang mulia, bila anda telah siap untuk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri diantara kalian.” (An-Nisa`: 59)

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)

Adapun baginda Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Diantaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:

1. Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu 'anhu berkata:

“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)

2. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847).

3. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)

Para ulama kita pun demikian adanya. Mereka (dengan latar belakang daerah, pengalaman dan generasi yang berbeda-beda) telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yang amat berharga seputar permasalahan ini, sebagaimana berikut:

Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan yang jahat?” Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemimpin dalam jihad…” (Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57)

Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)

Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14)

Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari berkata: “Telah sepakat para ulama ahli fiqh, ilmu, dan ahli ibadah, dan juga dari kalangan Ubbad (ahli ibadah) dan Zuhhad (orang-orang zuhud) sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini: bahwa shalat Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji, serta penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa, yang baik ataupun yang jahat.” (Al-Ibanah, hal. 276-281, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 16)

Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir….” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan diantara mereka tentang perkara berikut ini –beliau lalu menyebutkan sekian perkara, diantaranya kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf)–.” (Syarh Ushulil I’tiqad Al-Lalika`i, 1/194-197)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini (riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah di atas, -pen.) terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)

Para pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya:

1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam yang harus dipelihara.
2. Syi’ar kebersamaan tersebut akan pudar manakala umat Islam di masing-masing negeri bercerai-berai
dalam mengawali dan mengakhiri shaum Ramadhannya.
3. Ibadah yang bersifat kebersamaan semacam ini keputusannya berada di tangan penguasa umat Islam di
masing-masing negeri, bukan di tangan individu.
4. Shaum Ramadhan bersama penguasa dan mayoritas umat Islam merupakan salah satu prinsip agama Islam yang
dapat memperkokoh persatuan mereka, baik si penguasa tersebut seorang yang adil ataupun jahat. Karena
kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa. Terlebih manakala
ketentuannya itu melalui proses ru‘yatul hilal di sejumlah titik negerinya dan sidang-sidang istimewa.
5. Realita membuktikan, bahwa dengan bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas
umat Islam) benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam
berseberangan dengan penguasanya, suasana perpecahan di tubuh umat pun demikian mencolok. Yang
demikian ini semakin menguatkan akan kewajiban bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa
(dan mayoritas umat Islam).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote :

1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

“Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.”

2. Beliau merupakan salah satu ulama yang berpendapat bahwasanya pelaksanaan shaum Ramadhan dan Idul Fithri di dunia ini hanya dengan satu mathla’ saja, sebagaimana yang beliau rinci dalam kitab Tamamul Minnah hal. 398. Walaupun demikian, beliau sangat getol mengajak umat Islam (saat ini) untuk melakukan shaum Ramadhan dan Iedul Fithri bersama penguasanya, sebagaimana perkataan beliau di atas.

(Dikutip dari Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol.III/No.26/1427 H/2006, tulisan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc, judul asli Shaum Ramadhan dan Hari Raya Bersama Penguasa, Syi'ar Kebersamaan Umat Islam.)