Obyek Wisata Air Terjun Bajuin

Desa Sungai Bakar Kec.Bajuin Kab.Tanah Laut (10 Km dari kota Pelaihari)

Obyek Wisata Pantai Takisung

Desa Takisung Kec.Takisung Kab.Tanah Laut (22 Km dari kota Pelaihari)

Obyek Wisata Pantai Batakan

Desa Batakan Kec.Panyipatan Kab.Tanah Laut (40 Km dari kota Pelaihari)

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 26 September 2010

Tolong Jaga Mata Saya Baik-Baik !!!

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena dia buta. Dia membenci semua orang, kecuali pria kekasih tercintanya. Dia selalu ada untuknya. Gadis itu mengatakan kalau seandainya dia bisa melihat, maka dia akan menikahi pria kekasihnya itu.

Suatu hari, seseorang mendonasikan sepasang matanya untuknya agar dia bisa melihat segalanya, termasuk kekasihya itu. Kekasih prianya itu bertanya padanya, “karena sekarang kau sudah bisa melihat, apakah sekarang engkau mau menikahiku?”. Gadis itu shock dan kaget karena kekasihnya itu ternyata juga buta, dan dia menolak untuk menikahinya.

Pria itu pun pergi dengan berderai air mata, dan beberapa waktu kemudian dia menuliskan surat untuk gadis itu.
“TOLONG JAGA MATA SAYA BAIK-BAIK…..”

Beginilah manusia berubah ketika status mereka berubah. Hanya beberapa orang yang mengingat seperti apa hidupnya dahulu, dan siapa yang telah menemaninya pada saat-saat menderita.

Hati-Hati dengan Hati !

mungkin kau tidak akan pernah mengerti arti pedih, jika engkau belum pernah dikhianati. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh yang pernah sengsara, kesengsaraan cuma dirasakan orang yang pernah bahagia. Sedangkan orang yang sudah terbiasa dengan kepayahan, meski tiap hari didera kekurangan ia akan tegak melanjutkan hidup.

Aku bahagia berada diawal, walau tidak berada di akhirnya

Memiliki idealisme itu bagus,tapi jangan sampai itu menjadi hijab bagi penerimaan hati kita dengan keadaan dan kenyataan yang ada saat ini

Berusaha mencintai orang yang belum dikenal itu jauh lebih mudah, ketimbang harus membenci orang yang pernah kita sayangi

Hati selamanya akan senantiasa bergerak dinamis, ia akan terus berubah-ubah setiap waktu, maka tak ada jaminan bagi kelanggengan perasaan kita, saat ini boleh cinta,tapi diwaktu lain bisa saja membencinya setengah mati,atau pun sebaliknya. Berbahagialah orang yang tidak terjebak oleh cinta.

Ketika masih kecil,ingin cepat jadi orang dewasa, biar bebas tidak diatur oleh orang dewasa,bisa main kesan-kemari,dan akhirnya kawin dan punya anak,barulah terasa,betapa enaknya jadi anak kecil. Itulah manusia, selalu mengharapkan sesuatau yang bukan haknya.

Kejujuran Sang Pembohong

Sahabat Abu Hurairoh pernah diamanati oleh Rasululloh Saw untuk menjaga barang-barang zakat fithrah yang berupa gandum. Suatu malam seorang maling datang mengambil gandum sebanyak-banyaknya. Abu Hurairoh segera menangkapnya,” Kamu akan saya laporkan kepada Rasululloh.” Si pencuripun merajuk, mohon ampun. Ia mengaku sebagai orang miskin yang mencuri makanan,” Saya berjanji tak akan melakukannya lagi,” katanya.

Karna kasihan maka akhirnya Abu Hurairoh melepaskannya. Esok hari, ketika ia menghadap Rasululloh Saw, beliau sudah tahu apa yang terjadi tadi malam,” Abu Hurairoh, apa yang kamu lakukan terhadap orang yang kamu tangkap tadi malam ?” Beliau lalu menceritakan apa yang dialaminya.” Kamu di bohongi, wahai Abu Hurairoh. Lihat saja nanti malam, dia akan mencuri lagi.

Benar saja, dari pengintainya Abu Hurairoh melihat pencuri itu mengendap-endap dan mengambil gandum dari gudang,” Kali ini aku takkan melepaskanmu,” katanya pada diri sendiri. Lalu ditangkapnya orang itu,” Kamu akan saya laporkan kepada Rasululloh Saw.” Tapi sekali lagi pencuri itupun merayu dengan kata-kata yang menghiba dan lebih memelas lagi. Abu Hurairoh tersentuh dan melepaskannya lagi. Esok harinya Nabi kembali bersabda,” Ia telah membohongimu wahai Abu Hurairoh, nanti malam ia akan datang lagi.”

Pencuri itu benar-benar bandel. Seperti dikatakan Rasululloh Saw, dia mencuri lgi malam itu.” Tidak ada lagi ampun bagimu,” Kata Abu Hurairoh pada dirinya sendiri. Namun ketika ditangkap, sang pencuri mengeluarkan jurus lain.” Abu Hurairoh, maukah kamu saya ajari sesuatu yang jika kamu lakukan, Alloh akan memberikan manfaat kepadamu,” katanya. Karena para Sahabat Rasululloh Saw senang pada perbuatan yang bagus dan kebajikan, Abu Hurairoh balik bertanya, ” kalimat-kalimat apa itu ?”.

“Begini”, kata pencuri,” Bila kamu tidur bacalah ayat kursi sampai akhir. Nanti dengan kalimat itu Alloh akan menjagamu dari gangguan-gangguan setan”. Setelah mendapat pelajaran ini, Abu Hurairoh lalu melepaskan tangkapannya. Esoknya kembali lagi ke Rasululloh Saw. Beliau bertanya tentang tindakan Abu Hurairoh kepada sang pencuri.” Dia mengajariku tentang suatu kalimat yang ternyata adalah ayat kursi. Pencuri itu bilang, bila saya membaca ayat ini, maka Alloh akan menjagaku dari gangguan setan,” jawab Abu Hurairoh. Rasululloh Saw berkata,” Hai Abu Hurairoh, yang diucapkannya itu betul, meski pencuri itu pembohong.” Beliau lalu bertanya,” Taukah kamu siapa yang datang tadi malam dan malam-malam sebelum itu ? Abu hurairoh menjawab,” Tidak tau ya Rasululloh.” Nabi bersabda,” Dia itu setan.” ( Shahih Bukhori, III/88 Hadits Nomer 2311 )

Pelajaran apakah yang dapat anda ambil dari kisah itu ???

Cara Mudah Mengetahui Lailatul Qodar

Kapan lailatul qodar? Imam nawawi atau yang lainnya memilih pendapat yang menyatakan lailatul qodar itu berpindah-pindah, menurut al imam al-ghozali atau yang lainnya menyatakan : ” bahwa lailatul qodar itu bisa diketahui dengan melihat hari pertama dari bulan romadhon. Apabila awal romadhon ;

Ahad atau rabu _______ laitul qodarnya tanggal 29

Senin _______________ laitul qodarnya tanggal 21

Selasa atau jum’at______ laitul qodarnya tanggal 27

Kamis ______________ laitul qodarnya tanggal 25

Sabtu _______________ laitul qodarnya tanggal 23

Syaikh Abu al-Hasan : ” Mulai menginjak usia dewasa, aku belum pernah ketinggalan lailatul qodar dengan menggunakan kaidah ini.

Menyikapi Ujian Tuhan

Betapa banyaknya kenyataan-kenyataan didunia ini, kadang realita itu kehadirannya tidak kita harapkan. Sesuatu yang sudah kita rencanakan dengan matang kadang tidak mampu terwujud, justru yang tidak kita harapkan datang dengan gagahnya, seakan ia berkata ” inilah jatahmu nak ! terimalah daku dengan kedua tanganmu !”. jika sudah demikian, bermacamlah sikap kita dalam merespons tamu tak diundang ini.

Kecewa? Hampir bisa dipastikan, kadang bercampur juga dengan kebingungan, bimbang, lesu, dan yang paling berbahaya adalah putus asa.

Apakah ini wajar?

Sebagai manusia, tentu ini wajar. Dan saat-saat seperti inilah sebenarnya kita benar-benar diuji, seberapa pantas kita menyandang predikat “dewasa”. Tidak banyak orang yang mampu menyikapi masalah ini dengan arif dan bijaksana, tak jarang malah mencari “kambing hitam”,dengan menyalahkan sebab, situasi atau malah menyalahkan diri sendiri.

Yang harus di sadari

  • Setiap manusia akan diuji sesuai kadar kemampuannya, meski waktu ujian itu datang pertama kali kita merasa tidak sanggup menerimanya, tapi percayalah Alloh tidak mungkin menimpakan ujian diluar batas hambaNya.
  • Menerima fakta adalah modal awal untuk selanjutnnya menentukan arah penyelesaian, tanpa penerimaan, akan sulit menentukan solusinya. Ibarat orang sakit, ia akan mencari obat atau pergi menemui dokter, ketika dia merasa dan mengakui kalau ia sakit.
  • Konsisiten dengan langkah yang sudah kita mulai, kebanyakan dari kita akan surut ke belakang manakala ditimpa musibah, seseorang yang kena tipu,tidak akan banyak membantu jika hanya meratap setiap hari di dalam kamar tidurnya. Sebaliknya jika kita tetap tegar dengan menjalani aktifitas keseharian, pintu pertolongan terbuka lebar.
  • Kembali ke jalan-Nya, bisa jadi musibah adalah cara Alloh mengingatkan kita, kalau demikian,musibah akan segera berakhir, ketika kita menyadari kealpaan kita, dengan muhasabah dan taubat sebagai solusinya.
  • Do’a, satu hal ini tidak bisa kita acuhkan manfaatnya, bukan saja sebagai kekuatan dan dukungan spritual, tapi juga wujud penyerahan diri, pengakuan seorang hamba, bahwa dibalik setiap usaha, ada satu kekuatan yang Maha Menentukan, dialah Alloh Azza wa Jalla.

Apapun Wujudnya,Harus Disyukuri

Bersyukur Karena Sakit GG

Sekiranya kapan-kapan kita diberi sakit gigi, sehingga kadang malam malam harus begadang qiyamul lail karena sakitnya snut-snut sampai ke ubun-ubun, maka yang patut kita pikirkan adalah kebaikan Allah memberikan sakit gigi itu kepada kita. Kita harus selalu berbaik sangka kepada diri sendiri dan kepada Allah yang telah memberikan rasa sakit kepada kita.

Pertama yang kita khusnudzani adalah bahwa Allah sangat cinta kepada kita. Dia memberikan sakit gigi, karena Allah tidak mau kita terlalu banyak makan. Sakit gigi semacam peringatan dan teguran yang ampuh tentang pembatasan perut agar tak menjadi kuburan binatang terus menerus. Karena manusia adalah binatang pemamah biak, maka binatang dan segala hal yang diklaim halal langsung digiling mulutnya untuk dikubur di perutnya.

Padahal halal dan haram juga kaitannya dengan cara kita makan. Kalau kita makan berlebihan, maka kita bisa dikatakan sebagai golongan musrifin (orang-orang yang berlebihan) yang tidak dicintai oleh Allah. Anugerah Allah berupa sakit gigi adalah bentuk ekspresi cintaNya kepada kita. Kita selalu dicintainya, karena terhindar dari memperturutkan cita rasa mulut dan selera abdul butun.

Allah mencintaimu dengan memberikan sakit gigi dengan alasan, Allah cinta dengan kesehatanmu. Hawa nafsu mulut yang tidak terkontrol bisa mengakibatkan penumpukan lemak yang mempunyai turunan penyakit yang sangat banyak. Lemak bisa menyempitkan jalannya oksigen ke otak, sehingga bisa jadi tanpa disadari kita sedang diintai strok yang mengancam umur panjang kita.

Orang yang kebanyakan makan biasanya malas bekerja, laksana ular yang habis menelan babi. Pada bulan Ramadhan aku selalu merasakan bergairah dalam jumpalitan shalat tarawih saat perut ini tidak terlalu penuh terisi. Kita bisa merasakannya. Kalau rasa malas diperturutkan, maka aktivitas yang paling mengasyikkan adalah tidur. Rasa malas dan tidur adalah ivestasi keterpurukan masa depan kita di ranjang rumah sakit.

Kok bisa begitu? Ya.. karena ketika kita makan terlalu kenyang dan memperturutkan diri untuk bermalasan tidur ba’da makan, maka olahan karbonhidrat yang menjadi glukosa yang sejatinya sebagai bahan bakar energi kita akan mengendap bertumpuk tak terpakai. Apa akibatnya? Semakin menumpuk bahan bakar glukosa, maka pada titik kulminasinya akan menjadi penyakit yang biasa disebut sebagai penyakit gula, kencing manis, diabetes milletus.

Penyakit ini bisa mengasingkan kita dari kebiasaan manusia. Kita akan menjadi manusia seje dewe. Sebagai pengidap diabetes tentunya manusia tidak bebas memakan beras yang kandungan karbonhidratnya tinggi, ia harus cari beras yang berlabel For Diabetic. Untuk minum juga ia harus mencari gula yang special. Pokoknya semuanya harus berbeda dari manusia sehat.

Survei ku sementara mengatakan bahwa sangat jarang petani sejati yang terkena penyakit kencing manis ini. Karena petani tiap pagi mengeluarkan keringat di bawah terik matahari. Ia benar-benar menjadi manusia manfaat. Ia tidak mau dikatakan sebagai sahabatnya setan, karena telah mubadzirkan tumpukan energi glukosa tanpa dipakai untuk kerja keras. Saya tidak mau mengatakan bahwa orang yang terkena penyakit kencing manis sebagai pemalas, tetapi biasanya ia jarang melakukan aktifitas yang memeras keringat. Mungkin kerjaannya terkait dengan kerja otak.

Kita sangat bersyukur seandainya hari ini kita semua masih diberi anugerah snut-snut sakit gigi, karena ekspresi cinta Allah tidak mesti dengan anugerah kenikmatan-kenikmatan versi manusia, karena kenikmatan-kenikmatan itu telah terbukti melalaikan manusia untuk mengingat Tuhannya. Alquran sendiri mengajarkan bahwa apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang baik menurut Allah sudah tentu baik bagi kita, tapi kita sering tak menyadarinya.

Bagaimana Allah menegur kita, sebagaimana cerita dua tukang batu yang bekerja di bangunan bertingkat. Yang satu di atas dan temannya di bawah. Tukang batu yang di atas ingin memperingatkan agar temannya menyingkir, karena sebentar lagi bongkahan batu semen akan dijatuhkan. Tapi, teriakan peringatannya itu tak di dengar telinga temannya yang lagi sibuk di bawah. Sekali lagi ia berteriak, tapi tiada respon sama sekali. Karena suaranya semakin serak, maka tukang batu memutuskan untuk melemparkan kerikil ke arah temannya. Mendadak teman itu menoleh ke atas karena ada sengatan kerikil yang menyentuhnya. Langsung tukang batu memberi aba-aba agar ia menyingkir supaya tidak tertimbun bongkahan yang besar.

Rasa cinta Allah mengekspresikan teguran yang kadang sedikit terasa sakit, tetapi bertujuan agar kita mempunyai investasi kesehatan masa depan, investasi umur panjang. Kita harus rela sedikit sakit terkena lemparan kerikil untuk menghindari timbunan bongkahan batu yang mematikan. Dan tanpa sentuhan kerikil kadang manusia tak mau mendongak ke atas mengingat Tuhannya. Manusia sebagaimana tabiatnya menus-menus kakean dosa lebih mudah sadar dengan peringatan yang menyakitkan daripada limpahan nikmat yang sering melalaikan.

Alhamdulillah Aku jadi Tukang Sampah

Seandainya saya di masyarakat sekarang menjadi tukang sampah. Maka sudah sepatutnya berbangga hati, karena saya sekarang sebagai pelopor dawuh kanjeng Nabi “kebersihan adalah bagian dari Iman”. Kalau ada seorang Kiai tidak terima atas kepeloporanku dengan alasan karena beliau yang lebih tahu tentang dalil kebersihan dan beliaulah yang sering menyampaikannya di pengajian-pengajian, maka itu salah. Karena kualitas manusia dilihat dari kerja kerasnya dan manfaatnya atas orang lain, bukan anjuran yang tak bisa dilaksanakan, karena akan berbuntut menjadi hamba yang dibenci. Amat besar kebencian Allah kepada orang yang bisa ngomong dan tak bisa melakukannya.

Aku justru menjadi heran, karena kenapa Pesantren yang menjadi pelataran rumah ajaran Islam justru sebagai biang kerok kejorokan dan kekotoran. Mungkin karena sebagian ajaran agama salah diajarkan. Contoh kecil saja, kalau seandainya thaharah diajarkan tidak hanya sebagai bersuci, tetapi sebagai kebersihan, maka santri akan mementingkan aktivitas kebersihan: pemilahan sampah, daur ulang sampah, pemanfaatan sampah, daripada sekedar bersuci: berwudlu, mandi, istinja.

Walaupun masyarakat tak begitu menghargai pekerjaan saya, aku tetap berbangga karena atas kehadirankulah manusia sekampung tidak jadi menanggung dosa. Menurutku pengolahan sampah adalah bagian dari fardlu kifayat yang seharusnya ditanggung tiap orang sekampung. Dalam pengertian sebenarnya, setiap orang kampung harus mempunyai andil dalam urusan fardlu kifayat ini, bukan saling menjagakan. Tetapi orang-orang hanya saling njagaake kepada yang lainnya, maka aku rela untuk mewakili dan memikul tanggung jawab kifayat manusia sekampung, minimal se RT. Bukankah itu pekerjaan mulia dan unik, karena satu kampong hanya saya yang berprofesi sebagai pendulang sampah, tak ada saingannya.

Aku harus berbangga, karena dengan begitu, pada masa mendatang aku mempunyai investasi jawaban atas pertanyaan malaikat kubur, yang tega menanyakan siapa saudaramu? Aku tentu bisa menjawab dengan perbuatanku dan pengabdianku kepada tetangga-tetangga untuk menyiangi sampah yang saban hari menghias di setiap pelataran rumah warga. Aku akan mejawab “orang Islam laki-laki dan perempuan adalah saudaraku” buktinya “setiap hari akulah yang membersihkan perkampungan Paesan dengan cucuran keringat dan keikhlasan, itulah ekspresi rasa cintaku kepada mereka.” Maka aku akan balik bertanya kepada malaikat, “bagaimana dengan ekspresi rasa cintamu kepada saudaramu, apa yang sudah kau lakukan?”

Satpam = Mukmin

Seandainya aku sekarang menjadi seorang satpam, maka itu adalah pekerjaan anugerah yang tiap kali harus aku syukuri. Gelarku saja oleh Allah diberi nama khusus sebagai mukmin yang mempunyai kesejatian makna: bukan sekadar orang yang beriman, tetapi orang yang menebarkan keamanan. Buktinya orang-orang tak ragu lagi untuk mempercayaiku menjaga tumpukan uang di bank. Orang mempercayaiku sebagai penjaga keamanan di rumah sakit, perumahan, kantor-kantor. Intinya orang bisa berlega hati, karena kehadiranku. Orang bisa merasa aman karena kawalanku.

Akulah seorang mukmin sejati. Karena hakekat keimanan seseorang itu diukur dari perbuatan, ucapannya yang bisa memberi keselamatan dan rasa aman kepada orang sekelilingnya. Banyak orang mengaku beriman tetapi dia tidak mukmin karena kehadirannya membawa keresahan bagi orang lain. Jadi pekerjaanku sebagai satpam bukan bertujuan untuk sekedar menunggu gaji ditiap bulannya, tetapi pekerjaan ini adalah amanat Allah yang sedikit orang mempunyai kesempatan untuk memikulnya.

Pemulung Pekerjaan Mulia

Sendainya aku sekarang sebagai pemulung, maka aku tiap kali akan bersujud syukur kepada Allah, karena pekerjaanku sangat mulia. Di saat dunia semakin panas, dan para ilmuan lingkungan menganjurkan kita untuk mendaur ulang barang-barang, agar tidak terjadi polusi dan pemborosan-pemborosan, maka akulah salah satu orang yang dipersilahkan oleh Allah untuk ikut andil dalam bagian usaha perbaikan saving earth itu.

Aku sangat bangga menjalani profesi ini. Karena plastic yang rencananya akan menjadi bagian dari polutan tanah, menjadi batal karena ikhtiarku menjumputinya. Gudang-gudang tumah tangga yang dipenuhi barang-barang apkiran dipasrahkan kepadaku agar aku membersihkannya, maka usaha itu bagiku sangat mulia, karena aku terlibat dalam usaha agama, agar diantara manusia tidak menumpuk-numpuk hartanya yang berupa barang-barang, entah itu elekttonik dan lainnya.

Kalau perusahaan-perusahaan mengatur waktu kerja atau shift karyawan dengan ketat, maka aku bisa bekerja kapan saja, seikhlasku dan sekeras-keras kerjaku tanpa ikatan waktu dan aturan: aku harus begini dan begitu. Tanpa harus berseragam aku juga bisa membuat hidup menjadi lebih hidup, karena menyaku lembaran rupiah dari hasil keringatku.

Kalau orang resah butuh menyewa tempat untuk membuka lahan usahanya, mereka tambah resah lagi ketika melihat aksi satpol PP di pinggiran jalan kota menertibkan pedagang kakilima, maka aku tak akan pernah resah, karena lahan pekerjaanku seluas kaki ini malangkah, selebar bumi ini ku pijak.

Terima kasih Musuhku …………

Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, yang katanya tidak bisa hidup sendirian. teman,kekasih,bahkan musuhpun dibutuhkan kehadirannya. Karena mereka mempunyai perannya masing-masing. Bisa dibayangkan kalau dalam kehidupan kita hanya dipenuhi oleh orang-orang yang senang dan pro dengan kita saja. mungkin tidak akan lama kita akan terjungkal, karena mabok bangga diri, atau akan bosan dengan sendirinya.

Penghasud, meskipun dalam lahirnya menjengkelkan, tapi dialah salah satu bahan bakar bagi semangat kita, hingga terus menyala, pendengki, di lain sisi harus kita singkirkan,namun dilain sisi dia mampu memberikan cahaya bagi jalan yang harus kita lalui.

Alloh tidak menciptakan fir’aun, abu jahal, abu lahab bukan tanpa maksud !
Tanpa fir’aun nabi Musa dan bani isra’el mungkin tidak akan pernah keluar dari negeri isra’el dan tidak akan menemukan bumi yang dijanjikan.

Tanpa saudara-saudaranya yang iri dengki, Nabi Yusuf mungkin tidak akan pernah diangkat jadi petinggi di kerajaan yang agung.

Tanpa musuh,tanpa ada orang-orang yang iri, dengki,mungkin kita tidak akan berada pada posisi saat ini.

Jumat, 24 September 2010

Bank Gaib

Uang gaib, bank gaib nampaknya tak akan sepi dari penggemar. Meski korban sudah banyak yang terkapar dan menangis pilu, masih saja ada yang mencoba peruntungan lewat jalur tengkorak ini. Korbannya, bukan hanya orang-orang miskin yang ingin cepat kaya dengan jalan pintas, juga bekas orang-orang kaya yang bangrut. Dan yang mencengangkan, barisan ini tidak melulu dipenuhi oleh orang bodoh, tidak sedikit yang terpelajar, bahkan seorang menteri di era Gus Dur juga kena di kibulin.

Ada yang menarik dari fenomena ini, kejadian atau fakta tersebut membuktikan, bahwa manusia ketika usaha lahir sudah dijalani, namun hasil tidak seperti yang diharapkan, maka sangat terbuka pintu kemungkinan-kemungkinan mempercayai yang gaib. tinggal kemana dan kepada siapa ia akan mengadukan semua nasibnya.

Seseorang yang dulunya tidak percaya dengan Tuhan, sewaktu diuji usahanya bangrut, isterinya selingkuh dan meninggalkannya, sementara hutang kian hari kian “gemuk” karena bunga terus beranak-pinak, mulailah ia memanggil-manggil ” Tuhan Tolonglah hambamu ini !” .

Orang yang awalnya tidak percaya dukun, akhirnya coba-coba percaya, karena hartanya ludes ditilep orang, dia sudah melapor ke pihak berwajib, namun pencarinnya sia-sia, mulailah ia menempuh jalur “gaib” dengan mendatangi paranormal, menanyakan ikhwal keberadaan si penipu.

Orang yang dulunya tidak senang dengan ziarah ke makam , bisa berbalik arah ketika harta bendanya habis, usahanya tumpul, bahkan ia menjadi “penghuni” hidup di kuburan-kuburan yang konon wingit dan ampuh buat ritual “pesugihan”, na’udzubillahi min dzalik.

Sangatlah beruntung orang-orang yang selalu menjadikan Alloh SWT, sebagai tempat meminta atas segala permohonan, hajat hidup dan kebutuhan kita. selalu mengingatnya bukan hanya saat genting (susah), tapi juga ketika masih jaya. Karena Dia Maha Kuasa, Maka Pengasih, yang tidak pilih kasih.

Kisah Sang Wali Anggur

Dalam kehidupan tak jarang kita dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang pahit,dilematis dan serba salah. disatu sisi kita tahu itu salah, tapi disisi lain kita belum mampu untuk menghindar dari kesalahan itu, bahkan kadang kesalahan-kesalahan itu berulang-ulang kita lakukan. sungguh sangat menyakitkan memang ketika kita terjerumus kedalam jurang salah,sedangkan kita tahu itu harus dihindari, namun sisi manusia kita yang penuh dengan keterbatasan dan kelemahan seakan tiada daya menepisnya. tinggallah kita menyesalinya sepanjang malam, menangis memang tidak menyelesaikan masalah, menyesal saja bukan jawaban yang tepat. usaha yang sungguh-sungguh adalah langkah awal yang baik,walaupun ini bukan jaminan untuk sebuah keberhasilan, minimal andaipun kita gagal, kesungguhan kita tidak akan hilang sirna begitu saja,melainkan ia akan menjadi sebuah catatan tersendiri dihadapan Allah.

Dalam sebuah kisah, dahulu kala hiduplah seorang lelakis sebatang kara, tiada hari tanpa minuman yang memabukkan, hampir setiap malam ia habiskan separuh malamnya untuk minum-minum di sebuah bar kecil dipinggiran kota. pada suatu malam sebelum ia berangkat ke bar favoritnya, sambil memeriksa uang disaku celananya,ia bergumam

” Ya Allah ! sampai kapan Engkau akan uji hamba dalam kelalaian dan dosa ini? ” suaranya begitu lirih seakan ia hanya berbisik kepada dirinya sendiri.

” Apakah sampai ajal menjemput? ataukah sampai tenggorokanku hancur? ” kata-kata ini menjadi “ritual”nya setiap ia akan berangkat pergi minum

Sampailah ia di bar kecil, segera ia pesan anggur terbaik, dipilihnya sebuah meja yang paling ujung dan sepi, ia tenggak minumannya dengan perlahan, dinikmatinya setetes demi setetes, dalam setiap tegukan menghadirkan seribu rasa yang tak dapat dirasakan selain oleh dirinya.

Sepintas tak ada yang menarik dari lelaki tua ini, namun kalau diperhatikan dengan seksama, dibalik remang-remang cahaya bar terlihat air mata menetes dikedua pipinya. ada apakah gerangan dengan diri lelaki tua itu? peristiwa apakah yang menimpanya? sehingga dia menangis disela-sela mabuknya. 2 botol anggur telah ia habiskan, wajahnya pun memerah, mendadak ia bangkit, langkah gontainya menyeretnya keluar dari pintu bar, terus melangkah,hingga sampailah dia disebuah bangunan sederhana, ia pun masuk, dengan mata nanar ia masuk ke kamar mandi, suara air pun segera memecah kesunyian diujung malam itu. ternyata ia sedang mandi,cukup lama dia didalam kamar mandi itu.begitu keluar nampak wajahnya terlihat sudah lenyap pengaruh anggur yang diminumnya di bar tadi.

Diraihnya sajadah butut yang tersampir didinding diatas paku yang menyembul, ditaruhnya sajadah itu lurus kearah qiblat, sholat dua raka’at ia tunaikan, dalam sujud panjangnya ia menangis, kalimat yang sebelum berangkat ke bar sempat ia ucapkan kembali ia lafalkan bahkan sampai berkali-kali,sampai-sampai tak lagi dapat ia hitung.

” Ya Allah ! hamba sudah muak dengan dosa-dosa ini, hamba ingin sekali kembali kejalan-Mu, tapi mengapa setiap kali keinginan itu hadir, bukan insyaf yang hamba temui, tapi keinginan untuk mengulanginya kian menjerat hati dan pikiran hamba, apakah ini sebuah teguran dari-Mu? ataukah ini ujian dari-Mu? ataukah ini memang taqdir-Mu yang harus hamba terima?

” Apapun itu, hamba menerimanya dengan ikhlas ”

Separuh malam itu ia habiskan untuk meratap dan menyesali semua kesalahannya. meskipun esok malamnya ia seakan tak mampu menghentikan langkahnya untuk tidak ke bar lagi. ada satu yang menarik, ia tidak pernah menyalahkan Tuhannya,walau pun pertanyaan-pertanyaan selalu ia lantunkan, itu hanya sebatas kegundahan dan rasa penasaran atas apa yang sedang menimpanya. dirinya tak pernah merasa lebih berharga dari seekor hewan sekalipun, karena baginya, dirinya lebih rendah dari hewan, sebab hewan tidak mendapatkan taklif ( ketentuan syari’at ) yang mengatur kehidupannya, sedangkan dirinya? sudah jelas tahu dan paham akan semua norma-norma aturan syari’at, tapi ia langgar juga. dia selalu merasa hina dan tak bisa lepas dari kasih sayang Alloh, karena ia merasa seluruh ikhtiyar-usahanya menthok tanpa hasil,buktinya dia setiap malam masih asik bercumbu dengan anggur-anggurnya.jadilah ia diseparuh malamnya hanya bisa menangis, tanpa daya.

Dan malam ini ia merasakan suasana hatinya agak lain, seakan jawaban yang sudah sekian lama ia nanti akan segera tiba, tak ada yang tahu persisi apa yang terjadi malam itu, yang pasti pagi itu dirumahnya ramai berdatangan orang-orang yang kalau dilihat dari pakaiannya bukan orang satu kampung, ternyata, lelaki itu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna Lillahi wa Inna ilaihi roji’un….. dan anehnya para pelayat itu datang entah dari mana,mereka secara bersama-sama menunaikan kewajiban atas mayatnya, memandikan,mengkafani,mensholati dan menguburkannya. dilihat dari cara pelayat ini mempraktekkan 4 kewajiban tersebut mereka rata-rata seorang yang paham betul dengan syari’at islam. konon mereka ini adalah min jumlatil aulia’.

lelaki pemabuk itu,do’anya telah dikabulkan Alloh,dosa-dosanya telah terampuni, dan derajadnya diangkat oleh Alloh. sebab dirinya menerima semua yang datang dari-Nya dengan ikhlash tanpa meninggalkan usaha untuk meninggalkan larangan-larangan-Nya meski dirinya masih belum sempat bisa.

kisah ini tentu akan menimbulkan kontroversi, terutama dalam tinjauan fikih dan tasawuf.

Ada satu nasihat dari seorang ulama ahli hikmah ” Ingkarilah perbuatan para ahli jadzab ( orang yang tertarik hatinya karena cintanya kepada Alloh sehingga sering disebut orang “gila karena Alloh”) karena boleh jadi ia melakukan dosa,karena ia tak kuasa menolaknya atau diluar sadarnya, sedangkan urusan dia dengan Alloh,serahkan saja kepada Alloh , biarkan Alloh yang menentukannya ”

Wallahu A’lam bisshawab

Jangan Menanggung Beban Dunia Diatas Pundak Anda !

Dikalangan orang-orang tertentu, telah meletus perang internal, yaitu perang yang tidak terjadi dimedan pertempuran, melainkan diatas tempat tidur, dikantor, atau dirumahnya sendiri. Perang mengakibatkan timbulnya borok atau naiknya tekanan darah. Segala sesuatu membuatnya menjadi frustasi; marah karena kenaikan harga-harga, gelisah karena banjir dan jengkel karena nilai mata uang jatuh dipasar valas. Apapun alasannya, selamanya ia akan merasa tersiksa.

“ Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras yang ditujukan kepada mereka “

( al munafiqun [63]:4 )

Nasihat saya kepada anda adalah sebagai berikut, “ janganlah menanggung beban dunia diatas pundak anda”. Biarkan saja dunia ini menanggung beban segala sesuatu yang sudah atau akan terjadi. Sebagian orang ada yang memiliki hati seperti spons ( busa ), hatinya menyerap segala macam kekeliruan dan kesalahan. Bahkan, ia terusik dengan hal yang paling remeh sekalipun. Hati yang demikian adalah hati yang diyakini dapat menghancurkan pemiliknya.

Orang yang berpegang teguh pada prinsip dan selalu berada dijalan yang benar tidak akan tergoyahkan oleh kesulitan. Malah sebaliknya, kesulitan akan membantunya memperkuat ketetapan hati dan keyakinannya. Hal ini berlaku sebaliknya, yaitu bagi orang-orang yang berhati lemah. Ketika mereka menghadapi kesengsaraan atau masalah, yang bertambah justru rasa takutnya sendiri.

Di saat malapetaka tiba, tidak ada yang lebih bermanfaat bagi diri anda selain memiliki hati yang berani. Orang yang memiliki hati seperti itu berarti memilii dirinya sendiri. Ia memiliki keyakinan yang kuat dan sel syaraf-syaraf yang tenang. Sedangkan disisi lain, si pengecut, di saat bagaimanapun akan berkai-kali membunuh dirinya sendiri dengan kekwatiran dan firasat malapetaka yang akan tiba. Oleh karena itu, jika anda menginginkan hidup yang stabil, hadapilah situasinya dengan penuh keberanian dan ketabahan.

“ Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak ( meyakini kebenaran ayat-ayat Allah ) itu menggelisahkanmu “

( ar-rum [30];60 )

Bersikap tegaslah terhadap kondisi lingkungan anda dan hadapilah dengan berani angin malapetaka itu. Semoga kasih sayang Allah diturunkan kepada orang-orang yang hatinya lemah, karena betapa sering mereka terguncang oleh hal-hal yang paling sepele sekalipun.

“ Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba pada kehidupan ( dunia )”

( al- baqarah [2];18 )

Sedangkan bagi mereka yang tegar, mereka akan mendapatkan pertolongan Allah dan mereka tetap yakin akan janji-Nya.

“ Lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka “ Al-fath [48];18 )